KILASJAVA.ID, SURABAYA – Dua mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Rizal Rachbini Mahlevi dan Safina Talitha Laksmi Bintarti, memperluas pengalaman klinis melalui program student outbound dalam rangka KKN Penyetaraan di Università degli Studi di Verona, Italia. Keduanya memilih bidang bedah saraf sebagai salah satu fokus observasi selama mengikuti program tersebut.
Kegiatan berlangsung pada Juli 2026 di Ospedale Borgo Trento, rumah sakit pendidikan yang berafiliasi dengan University of Verona. Selama program, Rizal dan Safina mengikuti clinical rotation atau stase serta observasi klinis yang mempertemukan pembelajaran kedokteran dengan praktik pelayanan kesehatan di Italia.
Rizal mengatakan, pilihan terhadap departemen bedah saraf, khususnya neuroendoscopy, didorong keinginan untuk memperkuat kompetensi klinis sekaligus memahami bidang spesialistik yang kompleks.
“Pemilihan departemen bedah saraf dilatarbelakangi kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi klinis serta pemahaman terhadap bidang spesialistik yang kompleks. Terlebih, prosedur bedah saraf dengan pendekatan minimal invasif seperti neuroendoscopy masih menjadi bidang yang perlu terus dikembangkan di Indonesia,” kata Rizal.
Dalam kegiatan klinis, keduanya mengikuti ward round, diskusi kasus klinis, serta mengamati sejumlah prosedur medis. Mereka juga mendapat paparan mengenai penggunaan teknologi medis modern, termasuk sistem robotik Da Vinci Xi dalam prosedur pembedahan.
Bagi Rizal, pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai sistem klinis yang menurutnya berjalan lebih sistematis dan efisien. Penggunaan teknologi dalam prosedur medis juga memperkaya perspektifnya mengenai perkembangan pelayanan bedah.
“Pengalaman ini memberikan manfaat besar, terutama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, adaptasi dalam lingkungan multikultural, serta memperluas wawasan global di bidang kedokteran,” ujarnya.
Pengalaman selama berada di Italia diharapkan dapat menjadi bekal untuk mendorong pengembangan prosedur bedah minimal invasif di Indonesia. Rizal juga berharap semakin banyak dokter Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari metode bedah modern.
Ia mengingatkan mahasiswa lain agar tidak kehilangan rasa ingin tahu selama menjalani proses belajar. Menurut dia, kesempatan belajar di luar negeri tidak semestinya hanya digunakan untuk mengikuti sistem yang sudah ada.
“Teruslah memiliki rasa ingin tahu dan jangan habiskan kesempatan belajar di negara lain hanya dengan mengikuti sistem. Di Italia dan negara Eropa lainnya, mereka sangat terbuka ketika kita aktif bertanya dan membangun rasa ingin tahu,” pungkasnya.













