KILASJAVA.ID, SURABAYA – Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS) menggelar upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di halaman Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, Senin (17/8/2026). Upacara berlangsung khidmat dan diikuti seluruh staf dan karyawan serta keluarga besar YARSIS, termasuk jajaran pimpinan dan staf karyawan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, YARSIS memberikan penghargaan kepada para staf yang telah mengabdikan diri selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun.
Penghargaan diberikan dalam bentuk emas dengan berat masing-masing 5 gram untuk masa pengabdian 10 tahun, 10 gram untuk 20 tahun, dan 15 gram untuk 30 tahun.
Pemberian penghargaan itu menjadi salah satu momen yang mengharukan dalam peringatan HUT RI ke-81 di lingkungan YARSIS.
Sejumlah penerima penghargaan tampak tak kuasa menahan air mata ketika menerima apresiasi atas pengabdian mereka.
Ketua YARSIS Prof Mohammad Nuh mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus upaya untuk menumbuhkan budaya berterima kasih kepada mereka yang telah memberikan pengabdian.
“Jadi intinya kita ini belajar untuk berterima kasih kepada para pejuang kemerdekaan dengan cara kita mendoakan beliau-beliau yang sudah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini,” kata Mohammad Nuh.
Menurut dia, semangat berterima kasih juga perlu diberikan kepada mereka yang saat ini melanjutkan perjuangan melalui pengabdian di lingkungan YARSIS.
Penghargaan tersebut diberikan kepada karyawan dan staf keluarga besar YARSIS yang berada di Rumah Sakit Islam A. Yani, RSI Jemursari dan Unusa.
Mohammad Nuh menilai perjalanan YARSIS hingga berada pada posisi saat ini tidak dapat dilepaskan dari pengabdian para karyawan dan staf yang telah bekerja selama bertahun-tahun. Peran para pendahulu juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
“YARSIS bisa seperti sekarang ini tidak bisa dilepaskan oleh pengabdian mereka yang sudah 10, 20 tahun ataupun 30 tahun mengabdi di YARSIS. Dan juga tidak bisa dilepaskan oleh para pendahulu,” ujarnya.
Ia mengatakan penghargaan diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada setiap orang yang mengabdi di YARSIS.
Besaran penghargaan disesuaikan dengan masa pengabdian, yakni 5 gram emas bagi mereka yang telah mengabdi selama 10 tahun, 10 gram untuk masa pengabdian 20 tahun, dan 15 gram untuk pengabdian selama 30 tahun.
Nilai emas tersebut dikurskan dengan harga Rp2.500.000. Bagi Mohammad Nuh, pemberian penghargaan bukan semata-mata mengenai nilai material, melainkan bentuk penghormatan terhadap pengabdian seseorang.
“Intinya adalah kita belajar untuk berterima kasih terhadap pengabdian seseorang, terlebih kepada pendiri bangsa ini dan juga pendahulu kita di YARSIS, yaitu para tokoh-tokoh NU yang merintis ini semua jauh sebelum Indonesia merdeka,” tuturnya.
Ia menambahkan, para pendahulu YARSIS tersebut mengedepankan semangat kebangsaan dalam merintis dan mengembangkan lembaga.
Dalam kesempatan tersebut, Mohammad Nuh juga menekankan pentingnya inovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Menurut dia, kebutuhan masyarakat terus mengalami perubahan sehingga YARSIS harus mampu beradaptasi.
“Kita semua harus berinovasi. Kita harus terus berinovasi, tanpa inovasi kita tidak bisa memberikan layanan yang terbaik,” katanya.
Perubahan kebutuhan masyarakat, kata dia, berlangsung seiring perkembangan teknologi, termasuk teknologi di bidang kedokteran dan bidang lainnya.













