Example 728x250
Pendidikan

Inovasi “Jerami Padi Plus” UNAIR Tingkatkan Nutrisi Pakan Sapi Bali Petani Transmigran Manokwari

50
×

Inovasi “Jerami Padi Plus” UNAIR Tingkatkan Nutrisi Pakan Sapi Bali Petani Transmigran Manokwari

Sebarkan artikel ini
Unair

KILASJAVA.ID, MANOKWARI – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah jerami padi menjadi pakan ternak bernutrisi tinggi di Gapoktan Marzuki Sidey, SP10, Manokwari. Program tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan penanaman padi pada Jumat (21/8/2026) sebagai upaya mengoptimalkan potensi limbah pertanian untuk kebutuhan hijauan sapi bali.

Melalui kegiatan tersebut, TEP menargetkan pengumpulan dan pengolahan limbah jerami padi dengan kapasitas sekitar sembilan ton per hektare selama masa panen tiga bulan ke depan.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Prof Dr Herry Agoes Hermadi drh Msi, menjelaskan bahwa jerami padi yang selama ini memiliki nilai nutrisi rendah karena kandungan serat kasar tinggi dan protein hanya berkisar dua hingga lima persen, kini diolah menjadi inovasi “Jerami Padi Plus” melalui proses fermentasi anaerob.

Teknologi tersebut mampu meningkatkan kualitas nutrisi jerami secara signifikan. Kandungan protein kasar yang sebelumnya rendah dapat meningkat hingga mencapai 13,56 persen sehingga lebih bergizi dan mudah dicerna oleh ternak.

“Pembuatan pakan ini dilakukan dengan memotong jerami sepanjang 10-15 cm, menyusunnya berlapis setebal 20-30 cm, menaburkan dedak, lalu menyiramnya dengan larutan air, molase, serta cairan EM4 yang diproduksi mandiri oleh TEP SP10 peternakan sebelum dipadatkan rapat selama 7 hingga 14 hari,” jelas Prof Herry.

Dalam pengembangannya, Jerami Plus juga dipadukan dengan teknologi pencampuran pakan menggunakan sejumlah bahan hijauan bernutrisi, seperti rumput gajah, tebon jagung berusia tiga bulan, dan daun pisang kering. Kombinasi tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi ternak, khususnya bagi sapi bali bunting.

Prof Herry menyebutkan, tebon jagung memiliki kadar air yang sesuai untuk proses silase, sementara daun pisang kering dan rumput gajah berperan dalam menyumbang kandungan protein kasar. Formulasi ransum harian tersebut dirancang memiliki kadar protein kasar 10 hingga 12 persen agar pertumbuhan janin sapi bali tetap sehat tanpa menyebabkan penurunan bobot induk.

Untuk meningkatkan kualitas pakan, campuran Jerami Plus juga diperkaya dengan bahan bernilai gizi tinggi berupa bungkil sawit dan legum Indigofera. Bungkil sawit digunakan untuk melengkapi kebutuhan lemak kasar hingga 10 persen, sedangkan Indigofera dimanfaatkan sebagai konsentrat hijau dengan kandungan protein kasar mencapai 24 hingga 31 persen.

“Tanaman Indigofera kami andalkan sebagai konsentrat hijau karena kadar proteinnya jauh melampaui rumput biasa dan sangat efektif memperkaya mutu Jerami Plus,” ujar Prof Herry.

Selain komposisi pakan, TEP SP10 juga mengembangkan inovasi premix mineral yang diproduksi secara mandiri. Suplemen tersebut tidak hanya dicampurkan ke dalam ransum, tetapi juga dibuat menjadi mineral blok jilat berbentuk bulat menggunakan campuran tiga kilogram garam krosok, satu kilogram semen putih, dan satu kilogram mineral premix.

“Inovasi mineral blok jilat ini siap disajikan secara kering di kandang untuk mendongkrak palatabilitas sekaligus memastikan kebutuhan mineral makro dan mikro ternak terpenuhi,” tegasnya.

Melalui program pemberdayaan petani transmigran tersebut, Prof Herry berharap kebiasaan membakar sisa panen dapat beralih menjadi pemanfaatan limbah jerami secara produktif. Potensi limbah jerami yang mencapai tujuh hingga sembilan ton per hektare dinilai dapat menjadi sumber pakan alternatif bagi ternak.

Program ini menjadi bagian dari pengembangan pertanian terpadu, dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Transmigrasi untuk uji coba awal pembuatan silase bernutrisi tinggi menggunakan wadah berkapasitas satu ton.

“Harapan kami, ide pemanfaatan limbah ini terus didukung Kementrans agar pelatihan pengkayaan mikroba minggu depan dapat terselenggara sempurna dan membawa kesuksesan bagi para petani,” pesan Prof Herry.

Kegiatan Tim Ekspedisi Patriot tersebut mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDGs 3 tentang Good Health and Well-being, SDGs 8 tentang Decent Work and Economic Growth, SDGs 9 tentang Industry, Innovation, and Infrastructure, serta SDGs 11 tentang Sustainable Cities and Communities.

Pendamping kelompok dalam kegiatan ini terdiri atas Herry Agoes Hermadi, Ardito Hariadi, Terius Siep, Dorce Rumbrapuk, Kamilah Yuniah Ahmad, serta Putri Aji Esa Susilo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60