KILASJAVA.ID, SURABAYA – Majelis Ar-Rohimin kembali menggelar pengajian rutin Rabu malam dengan melanjutkan pembahasan mengenai pentingnya menjaga lisan. Kajian yang berlangsung pada Rabu, 16 September 2026 itu menghadirkan Habib Musthofa bin Zen, yang sekaligus pengasuh Majelis Ar-Rohimin, sebagai pemateri yang mengulas kandungan kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali.
Dalam kajian tersebut, Habib Musthofa bin Zen menjelaskan bahwa lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang memiliki pengaruh besar terhadap kualitas kehidupan seorang muslim. Perkataan yang keluar dari mulut seseorang dapat menjadi jalan menuju kebaikan, namun juga dapat menjadi sebab munculnya dosa apabila tidak dikendalikan.
Mengutip penjelasan dalam kitab Bidayatul Hidayah, disebutkan bahwa para ulama membagi perkataan manusia menjadi empat kategori.
Pertama, perkataan yang sepenuhnya membawa mudarat. Kedua, perkataan yang sepenuhnya mengandung manfaat. Ketiga, perkataan yang di dalamnya terdapat unsur manfaat sekaligus mudarat. Keempat, perkataan yang tidak memberikan manfaat maupun mudarat.
Menurut penjelasan tersebut, perkataan yang sepenuhnya mengandung mudarat wajib untuk ditinggalkan karena dapat membawa seseorang kepada keburukan.
Begitu pula perkataan yang memiliki manfaat dan mudarat, apabila dampak buruknya lebih besar daripada manfaat yang dihasilkan, maka meninggalkannya menjadi pilihan yang lebih selamat.
Sementara itu, perkataan yang tidak memberikan manfaat maupun mudarat juga perlu dihindari karena termasuk bentuk menyia-nyiakan waktu.
Dalam pandangan para ulama, waktu merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga seorang muslim dianjurkan untuk menggunakan waktunya pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah.
Habib Musthofa bin Zen menyampaikan bahwa dari empat kategori tersebut, hanya sedikit perkataan yang benar-benar layak dipertahankan, yakni ucapan yang membawa manfaat dan tidak menimbulkan dampak buruk.
Bahkan, perkataan yang terlihat baik sekalipun tetap perlu diperhatikan niat dan dampaknya karena dapat membuka pintu penyakit hati seperti riya, mencari pujian, atau keinginan untuk mendapatkan perhatian manusia.
Pesan tentang menjaga lisan juga banyak ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran seorang muslim bukan hanya terletak pada banyaknya ucapan yang disampaikan, tetapi pada kualitas dan manfaat dari setiap perkataan yang keluar.
Diam dalam kondisi tertentu bukan berarti kehilangan kesempatan berbicara, melainkan bentuk kehati-hatian agar seseorang tidak terjerumus dalam ucapan yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain.
Dalam kesempatan yang sama, pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, menyampaikan pesan moral, agar menjaga lisan tidak hanya dalam konteks hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi juga dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Menurutnya, menjaga ucapan menjadi salah satu kunci dalam merawat hubungan baik dan memperkuat ukhuwah islamiah di antara sesama umat Islam.





















