KILASJAVA.ID, SURABAYA – Menjaga telinga bukan sekadar menghindari suara yang tidak baik, melainkan bagian dari amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Pesan itu menjadi pokok pembahasan dalam kajian rutin Majelis Ar-Rohimin yang digelar setiap Rabu malam di Gedung Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Surabaya.
Dalam kesempatan tersebut, Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus selaku pengasuh Majelis Ar-Rohimin mengingatkan bahwa seorang mukmin berkewajiban menjaga pendengarannya dari segala sesuatu yang dimurkai Allah.
“Telinga adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Gunakanlah telinga untuk mendengarkan Al-Qur’an, ilmu, nasihat, dan zikir, serta jauhilah mendengarkan ghibah, fitnah, perkataan batil, dan segala sesuatu yang melalaikan,” ujar Habib Musthofa. Rabu malam (5/8/2026).
Menurutnya, apa yang didengar seseorang tidak berhenti pada telinga semata. Pendengaran menjadi salah satu pintu yang memengaruhi hati, pikiran, hingga perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa telinga yang dibiasakan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, majelis ilmu, zikir, dan nasihat akan menjadi sebab bertambahnya keimanan serta terbukanya hidayah.
Sebaliknya, apabila telinga terus-menerus digunakan untuk mendengar kemaksiatan, ghibah, fitnah, dusta, maupun perkataan batil, hati akan semakin keras dan jauh dari petunjuk Allah.
“Sesungguhnya telinga yang dipelihara dalam ketaatan akan menjadi sebab bertambahnya iman dan hidayah, sedangkan telinga yang digunakan untuk kemaksiatan akan mengeraskan hati dan mengundang murka Allah,” katanya.
Dalam kajian tersebut, Habib Musthofa merangkum beberapa pelajaran penting. Pertama, telinga merupakan amanah dari Allah yang wajib dijaga penggunaannya.
Kedua, mendengarkan ghibah, fitnah, dusta, maupun ucapan batil termasuk perbuatan yang haram atau tercela.
Ketiga, seorang muslim dianjurkan memperbanyak mendengarkan Al-Qur’an, hadis, ilmu agama, dan nasihat yang membawa manfaat.
Keempat, setiap apa yang didengar akan memberikan pengaruh terhadap kondisi hati serta membentuk ucapan dan tindakan seseorang.
Menjaga Telinga dalam Pandangan Islam
Dalam ajaran Islam, menjaga telinga merupakan bagian dari menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat.
Al-Qur’an menegaskan bahwa pendengaran termasuk nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
Ayat tersebut menjadi landasan bahwa setiap informasi yang masuk melalui telinga bukanlah sesuatu yang bebas dari hisab.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa seorang muslim tidak hanya diperintahkan menjaga lisannya, tetapi juga menjaga apa yang didengarnya.


