Keagamaan

Kajian Majelis Ar-Rohimin: Menjaga Telinga Agar Hati Tetap Bersih

11
×

Kajian Majelis Ar-Rohimin: Menjaga Telinga Agar Hati Tetap Bersih

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim (kanan) dan Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus saat acara rutinan rabu malam.

Dalam fikih akhlak, hukum asal mendengarkan ghibah adalah terlarang apabila dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Seseorang dianjurkan menghentikan pembicaraan, menasihati pelaku, meninggalkan majelis, atau mengalihkan pembicaraan apabila memungkinkan.

Example 300x600

Larangan ghibah sendiri ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, sementara para ulama menjelaskan bahwa ikut menikmati atau membiarkan ghibah tanpa uzur juga termasuk perbuatan tercela.

Sebaliknya, Islam sangat menganjurkan memperbanyak mendengarkan bacaan Al-Qur’an, majelis ilmu, zikir, serta nasihat yang baik.

Kebiasaan tersebut diyakini menjadi sarana membersihkan hati, memperkuat keimanan, dan membentuk akhlak seorang muslim.

Pesan tersebut sejalan dengan materi yang disampaikan Habib Musthofa dalam kajian malam itu. Menurutnya, menjaga telinga memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan menjaga lisan, karena keduanya saling memengaruhi dalam membentuk karakter seorang mukmin.

Sebagai penutup kajian, Habib Musthofa mengingatkan jamaah agar selalu berhati-hati terhadap apa yang didengar setiap hari.

“Jagalah telingamu sebagaimana engkau menjaga lisanmu. Sebab, pendengaran adalah pintu masuk hati; apa yang sering didengar akan menetap dalam hati, lalu memengaruhi ucapan dan perbuatan.”

Saat yang sama, Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, mengingatkan kepada jemaah agar adanya kajian-kajian ini, tidak hanya sekadar dijadikan angin lalu. Namun benar-benar diresapi agar menjadi insan yang lebih baik.

“Saya tidak akan pernah bosan dan tak akan pernah takut mengingatkan masyarakat, apalagi jemaah Ar-Rohimin untuk selalu menjaga syiar islam lewat majelis ini,” tegasnya.

Abdul Rohim juga sangat menyayangkan adanya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang mengatasnamakan organisasi yang melakukan boikot untuk menggagalkan acara pengajian.

” Ini sudah tidak sehat, dan cenderung memecah belah persatuan dan kesatuan, maka saya mengimbau agar masyarakat, khususnya para jemaah Ar-Rohimin untuk tidak terpancing oleh hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Hal ini juga terkait dengan kajian Majelis Ar-Rohimin tentang telinga yang harus digunakan sebaik-baiknya, sebagai salah satu nikmat dari Allah.

Maka, lanjutnya, pergunakan telinga dengan benar, apa yang didengar, apa yang dilihat, jangan langsung ditelan mentah-mentah.

“Kroscek dan tanyakan dulu kepada yang lebih paham, dengan demikian, insyaallah kita menjadi pribadi yang lebih baik dan kedamaian akan kita raih,” tutupnya.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60