KILASJAVA.ID, SURABAYA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada kemeriahan acara, lantunan sholawat, atau besarnya sebuah majelis. Kecintaan kepada Rasulullah, menurut Pembina Majelis Ar-Rohimin Surabaya H. Abdul Rohim, harus terlihat dalam akhlak dan perilaku umat Islam sehari-hari.
Abdul Rohim menyampaikan bahwa bulan Maulid merupakan momentum bagi umat Islam untuk mengevaluasi kembali sejauh mana ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW telah hadir dalam kehidupan.
Ukuran kecintaan kepada Rasulullah bukan terletak pada kemegahan acara, melainkan pada perubahan sikap dan perilaku.
“Ketika seorang muslim mencintai Rasulullah, maka kecintaan itu harus dibuktikan dengan meneladani sifat-sifat beliau dan menjalankan ajaran Allah serta Rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Abdul Rohim.
Menurut dia, tradisi memperingati Maulid Nabi memiliki nilai penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Muslim. Berbagai kegiatan seperti pembacaan sholawat, pengajian, serta kisah perjalanan hidup Rasulullah menjadi bagian dari ekspresi kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.
Namun, ia mengingatkan agar kecintaan tersebut tidak hanya muncul pada bulan Maulid. Nilai-nilai yang dibawa Rasulullah harus terus hidup dan menjadi pedoman dalam berbagai aspek kehidupan.
“Cinta memiliki karakter kontinuitas. Orang yang benar-benar mencintai akan selalu mengingat, menyebut, dan berusaha mengikuti perilaku orang yang dicintainya,” katanya.
Dalam konteks kecintaan kepada Rasulullah, kata Abdul Rohim, hal itu dapat terlihat dari cara seseorang berbicara, memperlakukan orang lain, menjalankan ibadah, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan aspek material sebagai ukuran utama dalam memperingati Maulid Nabi. Besarnya biaya, kemegahan panggung, jumlah hidangan, maupun banyaknya tamu bukan menjadi indikator utama kecintaan kepada Rasulullah.
Menurut Abdul Rohim, terdapat sebagian masyarakat yang rela mengeluarkan biaya besar, bahkan dalam kondisi tertentu sampai memaksakan diri dengan berutang, demi menyelenggarakan peringatan Maulid.
Ia tidak mempersoalkan tradisi tersebut. Namun, ia menekankan pentingnya kemampuan dan kesederhanaan agar peringatan Maulid tidak justru menjadi beban ekonomi bagi keluarga.
“Kalau memang ingin memperingati Maulid Nabi tetapi belum memiliki kemampuan biaya, cukup dilakukan secara sederhana. Bisa di rumah sendiri dengan mengundang dua atau empat orang teman. Itu pun sudah menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah,” tuturnya.
Abdul Rohim menawarkan pola peringatan Maulid yang lebih sederhana tetapi berkelanjutan. Salah satunya melalui majelis kecil yang dilakukan secara bergantian dari rumah ke rumah selama bulan Maulid.
Menurut dia, model tersebut tidak hanya mengurangi beban biaya, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga. Pertemuan kecil di lingkungan masyarakat dapat menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan membangun kepedulian.
“Misalnya malam ini di rumah si A, kemudian besok di rumah si B. Dilakukan secara estafet. Ini lebih indah, lebih dekat, dan tidak membuat kantong jebol,” ujar Abdul Rohim.
Ia menilai Maulid Nabi tidak harus selalu hadir dalam bentuk acara besar. Nilai spiritual dan sosial dari peringatan tersebut justru dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana di tengah keluarga dan lingkungan masyarakat.
Selain memperkuat hubungan sosial, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menanamkan kembali nilai-nilai akhlak Rasulullah di tengah perubahan zaman.








