Abdul Rohim menyoroti tantangan masyarakat saat ini yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan media sosial.
Menurut dia, perubahan pola interaksi akibat penggunaan gadget perlu diimbangi dengan penguatan nilai agama dan kepedulian sosial.
Ia melihat media sosial yang berkembang tanpa batas dapat memengaruhi pola hidup masyarakat apabila tidak disertai dengan benteng iman dan rasa empati terhadap sesama.
“Zaman sudah berbeda. Dengan adanya sholawat bersama door to door ini, kita bangun lagi rasa kebersamaan itu dari akar rumput,” katanya.
Menurut dia, momentum Maulid Nabi yang berlangsung pada bulan kemerdekaan juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat.
Ia menilai semangat meneladani Rasulullah tidak hanya berkaitan dengan ibadah personal, tetapi juga menyangkut hubungan sosial.
Rasulullah dikenal memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah yang relevan diterapkan dalam kehidupan modern.

Kejujuran, misalnya, menjadi nilai penting di tengah derasnya arus informasi digital. Amanah dibutuhkan dalam keluarga, pekerjaan, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat.
Sementara kemampuan menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik serta kecerdasan dalam mengambil keputusan menjadi bagian dari nilai yang dapat diterapkan umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan.
Bagi Abdul Rohim, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dapat dimulai dari tindakan sederhana. Memperbanyak sholawat, menjaga ucapan, berkata jujur, menghormati orang lain, menyayangi keluarga, menjaga hubungan dengan tetangga, serta membantu mereka yang membutuhkan merupakan bentuk nyata meneladani Rasulullah.
Ia berharap majelis-majelis kecil selama bulan Maulid dapat kembali menghidupkan suasana religius di tengah masyarakat.
Dengan demikian, nilai-nilai Maulid Nabi tidak hanya hadir dalam ruang pengajian, tetapi juga terbawa dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, dan hubungan sosial.
“Orang-orang yang memang mencintai Rasulullah, termasuk mereka yang kehidupannya sederhana, tetap bisa ikut merasakan kebahagiaan Maulid. Karena yang dinilai bukan besarnya biaya, tetapi ketulusan cintanya kepada Nabi,” kata Abdul Rohim.
Bagi dia, sholawat yang dilantunkan dalam sebuah majelis akan memiliki makna lebih dalam ketika setelah kegiatan tersebut seseorang memiliki tekad memperbaiki perilaku.
Kisah kehidupan Rasulullah juga menjadi lebih bermakna ketika diterjemahkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Abdul Rohim berharap masyarakat tidak hanya kembali mengingat sejarah Rasulullah, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Baginda Rasulullah dalam kehidupan yang semakin dipengaruhi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.








