KILASJAVA.ID, GRESIK – Malam itu tidak ada suara mesin yang mendominasi kawasan PT Metatu Nusantara Jaya (PT MNJ).
Yang terdengar justru lantunan sholawat.
Bersahut-sahutan.
Menggema.
Menyatu dengan suara ribuan jemaah yang datang dari berbagai penjuru Jawa Timur.
Bahkan ada yang berasal dari luar provinsi.
Mereka memadati kawasan perusahaan di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Senin malam, 1 Juni 2026.
Jumlahnya tidak sedikit.
Panitia memperkirakan lebih dari 20 ribu orang hadir.
Tujuannya satu.
Mengikuti Metatu Bersholawat, acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 PT MNJ.
Tema yang diangkat malam itu juga tidak biasa: Doa untuk Bangsa, Merajut Kedamaian Dunia.
Tema tersebut terasa relevan dengan situasi yang sedang terjadi.
Dunia belum benar-benar tenang.
Konflik di Timur Tengah masih berlangsung.
Ketidakpastian ekonomi global masih menghantui banyak negara.
Harga energi berfluktuasi.
Jalur perdagangan internasional terganggu.
Dampaknya ikut dirasakan hingga Indonesia.
Di tengah suasana seperti itu, PT MNJ memilih merayakan ulang tahunnya dengan pendekatan berbeda.
Bukan konser hiburan.
Bukan pesta gemerlap.
Melainkan majelis sholawat.
Ribuan orang duduk bersama.
Berdoa bersama.
Memohon keselamatan untuk bangsa dan dunia.
Malam itu sejumlah ulama dan habaib hadir di atas panggung utama.
Ada Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.
Ada Habib Ali Kwitang.
Ada Habib Jindan.
Ada pula Gus Ali Masyhuri dari Pondok Pesantren Bumi Sholawat.
Nama-nama tersebut sudah cukup untuk menjelaskan mengapa masyarakat rela datang sejak sore hari.
Bahkan sebelum acara dimulai, area sekitar lokasi sudah dipadati kendaraan jemaah.
Direktur Utama PT MNJ, H. Abdul Rohim, terlihat menyambut para tamu dan jemaah yang hadir.
Baginya, Metatu Bersholawat bukan sekadar acara seremonial perusahaan.
Kegiatan itu merupakan bentuk syukur atas perjalanan usaha yang telah memasuki usia ke-11 tahun.
Lebih dari itu, menurut dia, sholawat menjadi ikhtiar spiritual di tengah situasi dunia yang sedang tidak baik-baik saja.
“Semoga Indonesia meskipun merasakan dampak dari konflik yang terjadi di Timur Tengah, tetap bisa menjadi negara yang kuat dan mampu melewati krisis ini,” ujarnya.
Abdul Rohim mengaku kegiatan tersebut lahir dari kecintaannya terhadap sholawat dan para ulama.
Tradisi itu kemudian berkembang menjadi agenda tahunan perusahaan.
Tidak pernah terputus.
Justru semakin besar dari tahun ke tahun.
Bersamaan dengan pertumbuhan perusahaan itu sendiri.
Kawasan PT MNJ yang menjadi lokasi acara malam itu menjadi salah satu buktinya.
Area perusahaan kini jauh lebih luas dibanding beberapa tahun lalu.
Aktivitas usaha berkembang.
Kapasitas kawasan bertambah.
Karena itulah lokasi baru tersebut dipilih untuk penyelenggaraan Metatu Bersholawat tahun ini.
Daya tampungnya lebih besar.
Mampu menampung puluhan ribu jamaah.
Dan ternyata tetap penuh.
Dari atas panggung, yang terlihat bukan lagi kerumunan.
Melainkan hamparan manusia.
Sejauh mata memandang.
Mereka datang dengan tujuan yang sama.
Mencari keberkahan.
Menjalin silaturahmi.
Mengikuti majelis ilmu dan sholawat.
Fenomena itu menunjukkan satu hal.
PT MNJ tidak hanya tumbuh sebagai perusahaan.
Ia juga sedang membangun ruang sosial.
Tempat masyarakat bertemu.
Tempat ulama, habaib, tokoh masyarakat, dan warga biasa duduk berdampingan tanpa sekat.
Abdul Rohim menilai kemajuan perusahaan tidak boleh berhenti pada pencapaian bisnis.
Harus ada manfaat yang dirasakan masyarakat.
Harus ada kontribusi sosial.
Harus ada nilai yang diwariskan.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan bersama masyarakat melalui sholawat. Semoga doa-doa yang dipanjatkan malam ini membawa keberkahan, kedamaian, dan kebaikan bagi bangsa Indonesia,” katanya.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan banyak pihak.
Personel kepolisian.
TNI.
LPM Suramadu.
Serta berbagai organisasi kemasyarakatan.
Mereka bekerja sejak sebelum acara dimulai hingga seluruh rangkaian selesai.
Arus jemaah tetap terkendali.
Kegiatan berlangsung tertib.
Tidak mudah mengelola acara dengan jumlah peserta lebih dari 20 ribu orang.
Tetapi malam itu semuanya berjalan lancar.
Sementara di atas panggung, sholawat terus berkumandang.
Tidak terburu-buru.
Tidak pula sekadar menjadi rangkaian acara.
Bagi banyak jemaah yang hadir, malam itu menjadi ruang untuk menitipkan harapan.
Tentang keluarga.
Tentang bangsa.
Tentang masa depan.
Dan tentang dunia yang mereka harapkan bisa kembali damai.













