Pendidikan

Khofifah dan Eri Cahyadi Hadiri Wisuda 866 Santri Al-Qur’an Khadijah Surabaya

48
×

Khofifah dan Eri Cahyadi Hadiri Wisuda 866 Santri Al-Qur’an Khadijah Surabaya

Sebarkan artikel ini
Khadijah Surabaya

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Di saat berbagai lembaga pendidikan berlomba mencetak prestasi akademik, Yayasan Pendidikan Khadijah Surabaya menaruh perhatian besar pada pembinaan Al-Qur’an. Hasilnya terlihat dalam Gebyar Prestasi Al-Qur’an Tahun Ajaran 2025-2026 yang digelar di Grand Fullerton Ballroom Surabaya, Ahad, 14 Juni 2026. Sebanyak 866 siswa dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas mengikuti prosesi wisuda Al-Qur’an.

Jumlah tersebut menjadi yang terbesar sejak program wisuda Al-Qur’an digelar oleh Yayasan Khadijah.

Example 300x600

Para peserta terdiri atas 363 santri kategori tartil dan 503 santri kategori tahfidz yang berasal dari berbagai unit pendidikan, lembaga sosial, dan pondok pesantren di bawah naungan yayasan.

Ketua I Yayasan Khadijah, KH Abdullah Sani, mengatakan para siswa yang diwisuda bukan sekadar mampu membaca atau menghafal Al-Qur’an.

Mereka telah melalui tahapan pembelajaran dan evaluasi yang berlapis sebelum dinyatakan layak mengikuti prosesi wisuda.

Menurut Sani, kategori tartil kerap dipandang lebih sederhana dibanding tahfidz. Padahal, untuk mencapai standar kelulusan tartil, siswa harus melewati proses munaqasyah dan seleksi yang cukup ketat.

“Orang sering menganggap tartil itu biasa saja. Padahal untuk lulus tartil ada tahapan yang cukup panjang dan kuat, mulai munaqasyah sampai seleksi di tingkat yayasan,” kata Sani.

Ia menjelaskan, sebagian lulusan tartil bahkan telah memperoleh syahadah sebagai pengajar Al-Qur’an. Selain itu, terdapat lima santri yang telah memiliki sanad keilmuan Al-Qur’an.

Capaian tersebut tergolong istimewa karena tidak banyak pelajar yang mampu mencapainya pada usia sekolah.

Pada kategori tahfidz, Khadijah memberikan penghargaan kepada siswa kelas akhir yang memiliki hafalan Al-Qur’an sesuai kemampuan masing-masing. Tidak semua peserta harus menyelesaikan hafalan 30 juz untuk memperoleh apresiasi dari yayasan.

Bagi Khadijah, proses belajar dan ketekunan menjaga hafalan memiliki nilai yang sama pentingnya dengan jumlah juz yang berhasil dihafalkan. Karena itu, siswa yang telah mencapai target tertentu pada akhir masa studinya tetap mendapatkan kesempatan mengikuti wisuda.Khadijah Surabaya

“Kami mengapresiasi semua capaian. Berapapun hafalannya ketika sudah berada di kelas akhir akan kami beri penghargaan melalui Gebyar Prestasi Al-Qur’an ini,” ujar Sani.

Ia menilai tantangan terbesar para penghafal Al-Qur’an bukan hanya saat menambah hafalan, melainkan menjaga hafalan tersebut agar tetap melekat dalam ingatan.

Karena itu, ia mengingatkan para wisudawan untuk terus melakukan murojaah dan membaca Al-Qur’an secara rutin.

“Yang sudah hafal harus terus menjaga hafalannya. Al-Qur’an harus dibaca setiap hari,” katanya.

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Ketua Umum Yayasan Khadijah Prof. Ridlwan Nasir, Direktur Bil Qolam Pusat KH Anas Bashori Alwi, KH Mas Sulaiman, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Eri Cahyadi yang hadir sebagai wali murid menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Khadijah atas konsistensinya membangun karakter siswa melalui pendidikan Al-Qur’an.

Menurut dia, pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini dapat menjadi benteng bagi anak-anak menghadapi berbagai tantangan sosial.

“Saya mewakili para wali murid mengucapkan terima kasih. Anak-anak kita dikuatkan dan dipagari oleh Al-Qur’an,” kata Eri.

Ia meyakini pembiasaan membaca dan memahami Al-Qur’an akan membentuk generasi yang memiliki akhlak baik dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Ia menambahkan, karakter tersebut menjadi modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang tertib dan harmonis.

“Insya Allah, dengan pendidikan seperti ini anak-anak akan terhindar dari geng motor, tawuran, maupun narkoba,” ujarnya.

Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa menyoroti pentingnya menjaga hafalan Al-Qur’an setelah proses wisuda selesai. Menurut dia, keberhasilan seorang santri tidak berhenti pada capaian hafalan, tetapi juga pada kemampuannya mempertahankan hafalan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kata Khofifah, peran guru dan orang tua tetap dibutuhkan untuk mendampingi para santri. Guru bertugas membimbing proses pembelajaran, sedangkan orang tua memastikan kebiasaan membaca dan mengulang hafalan tetap berlangsung di rumah.

“Guru Al-Qur’an tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing. Orang tua juga memiliki peran penting untuk memastikan hafalan tetap terjaga,” tuturnya.

Khofifah mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur selama ini memberikan perhatian kepada para hafidz dan hafidzah melalui program tunjangan yang diberikan secara berkala. Setiap tahun, sekitar 4.200 penghafal Al-Qur’an menerima manfaat dari program tersebut.Khadijah

Ia menyebut, dukungan itu merupakan bentuk penghargaan terhadap kontribusi para penghafal Al-Qur’an dalam menjaga tradisi keilmuan Islam di tengah masyarakat.

Untuk pembelajaran Al-Qur’an, seluruh unit pendidikan Khadijah menggunakan metode Bil Qolam yang dikembangkan KH Anas Bashori Alwi.

Metode tersebut menjadi acuan dalam memastikan kualitas bacaan para siswa sesuai standar tartil sekaligus mendukung lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an dari berbagai jenjang pendidikan di lingkungan Yayasan Khadijah Surabaya.

Penulis: Nayla Editor: BeJe
Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *