Melalui metode tersebut, masyarakat tidak hanya menerima materi pembelajaran, tetapi juga dilibatkan dalam proses identifikasi kebutuhan, penyusunan kegiatan, hingga pengembangan solusi yang sesuai dengan kondisi lingkungan mereka.
Menurut Milawati, pemberdayaan yang efektif harus dimulai dari pengakuan terhadap potensi yang telah dimiliki masyarakat. Oleh karena itu, kearifan lokal Madura dipilih sebagai instrumen pembelajaran karena memiliki kedekatan emosional dengan peserta.
“Aksara Berdaya tidak hanya mengajarkan kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, keberanian, dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal yang mereka miliki. Kearifan lokal Madura menjadi media pembelajaran yang sangat efektif karena dekat dengan kehidupan peserta dan mampu membangun rasa memiliki terhadap budaya sendiri,” jelasnya.
Selama pelaksanaan kegiatan, antusiasme peserta juga mendapat perhatian dari Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Yunita Pancasari. Ia menyebut para peserta menunjukkan semangat yang tinggi untuk belajar dan mengembangkan diri.
Menurutnya, banyak peserta yang merasa mendapatkan kesempatan baru untuk meningkatkan kemampuan yang selama ini belum pernah mereka peroleh melalui pendidikan formal maupun pelatihan lainnya.
“Kami melihat ibu-ibu sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka merasa dihargai, didengarkan, dan diberi kesempatan untuk terus belajar. Program ini membantu masyarakat menjadi lebih percaya diri serta memiliki keterampilan yang dapat mendukung kesejahteraan keluarga,” tuturnya.
Direktur Universitas Terbuka Surabaya, Prof. Dr. Suparti, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari tridarma perguruan tinggi yang harus mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan sosial.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat melalui program-program yang berdampak langsung.
“Universitas Terbuka berkomitmen menghadirkan program pengabdian yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui Aksara Berdaya, kami berharap lahir komunitas belajar yang mandiri, perempuan yang semakin berdaya, serta masyarakat yang mampu meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan dan penguatan potensi lokal,” ungkapnya.
Program Aksara Berdaya dilaksanakan melalui sejumlah tahapan kegiatan yang saling terintegrasi. Mulai dari pemetaan kebutuhan literasi masyarakat, pelaksanaan kelas literasi fungsional, integrasi budaya lokal dalam materi pembelajaran, penguatan literasi ekonomi dan digital, pelaksanaan proyek komunitas, hingga proses pendampingan secara berkelanjutan.
Sasaran kegiatan mencakup perempuan, ibu rumah tangga, pelaku usaha mikro, dan warga aktif di lingkungan Desa Katol Timur dengan jumlah peserta sekitar 40 orang.
Kehadiran kelompok sasaran yang beragam tersebut diharapkan mampu menciptakan efek pengganda dalam penyebaran pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, program ini juga diarahkan untuk menghasilkan berbagai luaran yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Di antaranya berupa modul pembelajaran berbasis kearifan lokal Madura, dokumentasi praktik baik pemberdayaan masyarakat, produk dan karya peserta, publikasi kegiatan, serta model pengembangan literasi yang berpotensi direplikasi di wilayah lain.
Melalui pendekatan yang menggabungkan pendidikan, budaya lokal, dan partisipasi masyarakat, program Aksara Berdaya menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas perempuan desa agar mampu menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang terus berkembang.
Di saat yang sama, program tersebut juga membuka ruang bagi pelestarian nilai-nilai budaya Madura sebagai aset penting yang dapat menjadi kekuatan dalam pembangunan masyarakat berbasis kearifan lokal.













