Terkini

Jangan Kaget! Malam di Surabaya Kini Terasa Lebih Dingin, Ini Penjelasannya

10
×

Jangan Kaget! Malam di Surabaya Kini Terasa Lebih Dingin, Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Malam di Surabaya
Gambar ilustrasi.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Siang hari tetap menyengat. Namun, begitu matahari tenggelam, suasana berubah drastis. Dalam beberapa pekan terakhir, warga Surabaya mulai merasakan udara malam yang jauh lebih dingin dibanding biasanya. Sebagian mengaku harus kembali mengenakan jaket saat berkendara pada dini hari, sesuatu yang jarang terjadi di kota yang dikenal sebagai salah satu wilayah terpanas di Jawa Timur.

Perubahan itu bukan sekadar perasaan. Fenomena tersebut merupakan bagian dari karakteristik musim kemarau yang dalam istilah masyarakat Jawa dikenal sebagai bediding. Kondisi ini lazim terjadi ketika angin monsun timur dari Benua Australia membawa massa udara yang lebih dingin dan kering ke wilayah Indonesia.

Example 300x600

Ketika musim kemarau mencapai fase puncaknya, tutupan awan berkurang secara signifikan. Langit yang cerah membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari dengan cepat terlepas ke atmosfer saat malam. Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat dibandingkan saat musim hujan.

Di Surabaya, efek tersebut memang tidak sampai menghadirkan suhu belasan derajat Celsius seperti di kawasan pegunungan. Namun, kombinasi udara yang lebih kering dan penurunan kelembapan membuat hawa malam terasa lebih menusuk. Tubuh manusia menangkap perubahan itu sebagai sensasi dingin yang lebih kuat, meski penurunan suhu sebenarnya tidak terlalu ekstrem.

Fenomena ini juga dipengaruhi kontras suhu yang cukup lebar antara siang dan malam. Saat siang, suhu udara Surabaya masih dapat menembus lebih dari 33 derajat Celsius. Selisih temperatur yang cukup besar dalam rentang waktu beberapa jam membuat masyarakat merasakan perubahan cuaca secara lebih nyata.

Selain memengaruhi kenyamanan, kondisi tersebut memiliki konsekuensi terhadap kesehatan. Udara dingin dan kering dapat memicu iritasi saluran pernapasan, terutama bagi penderita asma, influenza, maupun penyakit paru kronis. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan karena kemampuan tubuh mereka beradaptasi terhadap perubahan suhu relatif lebih rendah.

Aktivitas luar ruangan pada malam hingga dini hari juga membutuhkan perhatian lebih. Pengendara sepeda motor, pekerja shift malam, pedagang kaki lima, hingga petugas keamanan merupakan kelompok yang paling sering terpapar udara dingin dalam waktu lama. Paparan angin secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko penurunan suhu tubuh apabila tidak diimbangi perlindungan yang memadai.

BMKG mengimbau masyarakat tidak perlu panik menghadapi fenomena tersebut karena merupakan siklus alam yang hampir selalu muncul pada musim kemarau. Namun, langkah antisipasi tetap penting dilakukan. Menggunakan jaket atau pakaian hangat ketika keluar rumah pada malam hari, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga pola makan bergizi, serta memenuhi waktu istirahat menjadi cara sederhana untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan agar tidak terkecoh oleh udara malam yang sejuk. Paparan sinar matahari pada siang hari tetap berada pada kategori tinggi sehingga risiko dehidrasi dan paparan radiasi ultraviolet masih perlu diwaspadai. Perbedaan suhu yang cukup tajam antara siang dan malam justru menjadi ciri utama musim kemarau di wilayah pesisir seperti Surabaya.

Dalam beberapa pekan ke depan, peluang terjadinya bediding diperkirakan masih cukup besar selama langit tetap cerah dan curah hujan belum meningkat. Karena itu, warga Surabaya diperkirakan masih akan merasakan udara malam yang lebih dingin dibandingkan kondisi normal, terutama menjelang fajar ketika suhu berada pada titik terendah.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *