KILASJAVA.ID, SURABAYA – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan program Nutrition and Entrepreneurship atau Nutripreneurship di Kawasan Transmigrasi Prafi (SP4), Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi pangan lokal sekaligus mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah dari sisi ekonomi, gizi, dan keamanan pangan.
Kawasan Prafi memiliki sejumlah potensi yang masih terbuka untuk dikembangkan. Berdasarkan data dan laporan tahun sebelumnya, potensi tersebut mencakup sumber daya pangan lokal, ekonomi, serta sumber daya manusia.
Salah satu potensi pangan yang menonjol adalah komoditas umbi-umbian seperti singkong dan keladi. Selama ini, kedua komoditas tersebut antara lain diolah menjadi keripik. Prafi juga memiliki potensi perikanan air tawar berupa lele, nila, dan ikan mas yang masih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UNAIR, Emyr Reisha Isaura, SGz, MPH, PhD, mengatakan potensi tersebut dapat dikembangkan melalui pendampingan kepada UMKM. Pengembangan usaha tidak hanya diarahkan pada keuntungan penjualan, tetapi juga pada peningkatan kandungan gizi dan higienitas produk.
“Melihat potensi tersebut, program ini hadir untuk mendampingi UMKM dalam menghasilkan produk yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai tambah berupa kandungan gizi yang tinggi dan tingkat higienitas yang baik,” ujar Emyr.
Pada pekan pertama, tim berfokus mengumpulkan dan menganalisis data sasaran. Pendekatan dilakukan secara personal melalui kelompok ibu-ibu PKK, Dasawisma, dan kegiatan pengajian. Setelah pemetaan sasaran dilakukan, tim akan membuka pelatihan khusus bagi pelaku UMKM.
Salah satu anggota tim, Nana, mengatakan pemetaan diperlukan karena data pelaku UMKM yang sesuai dengan kriteria program masih bersifat umum. Karena itu, tim perlu turun langsung ke lapangan untuk menyusun daftar sasaran.
Selain persoalan pendataan, tantangan lain berkaitan dengan kebiasaan masyarakat dalam mengelola usaha. Anggota tim, Aditya, mengatakan masyarakat lokal atau Orang Asli Papua (OAP) belum terbiasa dengan aktivitas kewirausahaan, termasuk pengelolaan arus kas dan manajemen usaha.
“Sedikit tantangan yang kami hadapi seperti data pelaku UMKM yang sesuai kriteria masih sangat general, sehingga tim perlu turun langsung untuk menyusun daftar sasaran. Di sini juga masyarakat lokal atau Orang Asli Papua (OAP) belum memiliki mindset atau kebiasaan untuk berwirausaha, belum terbiasa mengatur arus pembukuan kas (cash flow), maupun manajemen usaha. Itu yang menjadi kendala dan akan kami bantu dampingi nantinya,” kata Aditya.
Bagi tim Ekspedisi Patriot UNAIR, Nutripreneurship tidak berhenti pada upaya meningkatkan nilai jual produk. Prinsip gizi dan keamanan pangan juga menjadi bagian dari pendampingan, dengan keluarga sebagai titik awal edukasi.
Lisa, praktisi womanpreneur sekaligus bidan dalam tim, mengatakan kebiasaan memperhatikan kualitas dan keseimbangan pangan di lingkungan keluarga diharapkan dapat diterapkan ketika masyarakat mulai memproduksi makanan untuk dijual.
“Harapannya ketika seorang ibu sudah terbiasa memperhatikan kualitas dan keseimbangan pangan untuk keluarganya, prinsip yang sama juga akan diterapkan ketika ia memproduksi makanan yang dijual. Jadi produk tersebut tetap memiliki kualitas dan nilai gizi yang baik bagi konsumen,” tutur Lisa.
Memasuki awal September, tim akan merealisasikan kelas pelatihan dalam bentuk workshop yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing UMKM. Emyr mengatakan program tersebut akan terdiri atas tiga kali pelatihan dengan materi yang mencakup pengembangan produk, pengolahan dan inovasi produk, keamanan pangan, hingga Good Manufacturing Practice (GMP).
Materi pelatihan juga mencakup manajemen pemasaran dan penentuan target pasar. Dari sisi administrasi usaha, masyarakat akan mendapatkan edukasi mengenai legalitas, antara lain Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, dan BPOM.
Program ini juga diarahkan untuk mencetak role model perempuan dari masyarakat setempat. Emyr menilai perempuan memiliki peran penting dalam keluarga, termasuk dalam mencegah malnutrisi dan meningkatkan literasi gizi.
“Wanita dapat membantu mencegah malnutrisi, meningkatkan literasi gizi, serta mendukung tercapainya generasi emas melalui penyediaan makanan yang bergizi dan aman. Kami akan berusaha semaksimal mungkin memfasilitasi jalur terbaik agar produk masyarakat transmigrasi lokal maupun transmigrasi Nusantara ini bisa menembus pasar nasional bahkan internasional,” ujar Emyr.













