Keagamaan

Menjaga Telinga di Era Digital, Pesan Imam Al-Ghazali Kembali Diingatkan di Majelis Ar-Rohimin

18
×

Menjaga Telinga di Era Digital, Pesan Imam Al-Ghazali Kembali Diingatkan di Majelis Ar-Rohimin

Sebarkan artikel ini

Dalam kajian Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa bin Zen juga menyampaikan sebuah kisah tentang seorang saleh yang berada dalam sebuah majelis ketika terdengar pembicaraan yang mengandung ghibah.

Dalam kisah tersebut, orang saleh itu kemudian menunjukkan penyesalan yang sangat mendalam. Setelah pulang dari majelis, ia tidak makan selama tiga hari sebagai bentuk taubat kepada Allah dan memohon ampun atas kekhilafannya.

Kisah tersebut disampaikan bukan sekadar untuk menggambarkan beratnya persoalan ghibah, tetapi juga sebagai pengingat tentang bagaimana seorang yang menjaga hati memandang perkara yang mungkin dianggap ringan oleh sebagian orang.

Bagi sebagian manusia, mendengar percakapan tentang keburukan orang lain mungkin terasa sebagai hiburan. Namun bagi orang yang berusaha menjaga kebersihan hati, perkara semacam itu justru dapat menjadi sesuatu yang perlu dihindari.

Di tengah budaya digital yang membuat batas antara informasi, hiburan, dan pembicaraan pribadi semakin tipis, pesan tersebut terasa semakin penting.

Menjaga telinga bukan berarti menutup diri dari dunia. Sebaliknya, ia merupakan bentuk kedewasaan dalam menentukan apa yang layak diberi ruang dalam perhatian.

Telinga perlu digunakan untuk mendengar sesuatu yang membangun. Al-Qur’an, ilmu, nasihat, hikmah, dan pembicaraan yang mengingatkan kepada Allah merupakan bagian dari perkara yang semestinya lebih banyak memenuhi pendengaran seorang Muslim.

Sementara itu, ghibah, fitnah, namimah, perkataan batil, pembicaraan keji, membuka aib, serta segala sesuatu yang melalaikan perlu dijauhi sejauh kemampuan.

Pesan tersebut kemudian mengarah pada satu kesadaran sederhana tetapi mendalam: menjaga telinga pada hakikatnya merupakan bagian dari menjaga hati.

Sebab, apa yang terus-menerus didengar dapat membentuk apa yang dipikirkan, dan apa yang dipikirkan dapat memengaruhi bagaimana seseorang bersikap.

“Jagalah telingamu, karena apa yang masuk melalui pendengaran dapat memengaruhi hati. Dengarkanlah Al-Qur’an, ilmu, nasihat dan hikmah; jauhilah ghibah, fitnah, perkataan batil dan segala sesuatu yang melalaikan. Dengan menjaga pendengaran, kita sedang menjaga hati, dan dengan menjaga hati, kita sedang menempuh jalan menuju hidayah Allah.”

Kajian Majelis Ar-Rohimin pada 12 Agustus 2026 itu kemudian ditutup dengan doa. Agar pendengaran tidak menjadi pintu masuk kemaksiatan, tetapi menjadi jalan bagi ilmu, nasihat, dzikir, dan kebaikan yang menuntun seorang hamba semakin dekat kepada Allah.

Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60