Pemilihan tempat tersebut, kata Muhammad Nuh, diharapkan menjadi bagian dari upaya mencari keberkahan dari para muassis NU. Karena itu, suasana Muktamar diharapkan tetap dibangun dengan semangat kebahagiaan, kegembiraan, guyub dan musyawarah.
“Kita ingin mendapatkan, mencari keberkahan dari para muasis kita sehingga semangatnya harus kita jaga, semangat senang, semangat bahagia, semangat gembira, semangat guyub, semangat bermusyawarah, sehingga nanti segala keputusannya itu keputusan yang terbaik,” tuturnya.
Persiapan juga mencakup aspek keamanan. Panitia telah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan selama pelaksanaan Muktamar.
Pengamanan akan melibatkan unsur keamanan internal pondok serta organisasi NU. Unsur Ansor, Banser, Pagar Nusa dan lainnya akan ikut mendukung pengamanan.
Muhammad Nuh menjelaskan, unsur pondok akan diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pengamanan sebagai bentuk penghargaan kepada tuan rumah. Pengamanan tersebut kemudian didukung organisasi NU.
“Intinya yang di dalam adalah nanti kita libatkan pengamanan dari unsur pondok. Kita ingin memberikan penghargaan secara khusus, memberikan kesempatan pada tuan rumah, tapi di-backup oleh organisasi kita sendiri baik Banser maupun Ansor dan Pagar Nusa dan yang lainnya,” katanya.
Selain itu, pengamanan juga melibatkan TNI dan Polri. Kehadiran unsur tersebut berkaitan dengan pengamanan, termasuk protokol keamanan Presiden yang dijadwalkan hadir dalam pembukaan.
Persiapan Muktamar juga menyentuh persoalan perbedaan pandangan dalam pembahasan materi. Sejumlah perbedaan disebut mulai diurai melalui halaqah dan pramuktamar.
Muhammad Nuh menilai perbedaan merupakan bagian dari Muktamar. Karena itu, yang harus disiapkan bukan sekadar ruang untuk memperdebatkan perbedaan, melainkan ruang persamaan yang lebih besar.
“Karena Muktamar itu intinya tempat bertemunya perbedaan, maka kita harus siapkan ruang persamaannya. Jadi kita kelola ruang persamaannya. Ruang persamaannya harus lebih besar daripada ruang perbedaannya,” ujarnya.
Ia mengatakan pendekatan tersebut diarahkan untuk menemukan titik temu. Musyawarah tidak dimaksudkan sebagai ajang adu kuat argumen, melainkan mencari kemungkinan untuk saling memperkuat.
“Kita ingin mencari titik temu dari perbedaan, dan kita tidak ingin adu kuat argumen, tetapi ingin saling memperkuat,” kata Muhammad Nuh.
Perbedaan pandangan, menurut dia, dapat menjadi ruang untuk menemukan kekuatan dari masing-masing pendapat.
Kekuatan tersebut kemudian dicari titik temunya melalui proses musyawarah, sehingga tidak ada pihak yang merasa dikalahkan ataupun dimenangkan.













