Pendidikan

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Manfaatkan Pelepah Sawit Jadi Pakan Sapi

13
×

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Manfaatkan Pelepah Sawit Jadi Pakan Sapi

Sebarkan artikel ini
Unair

KILASJAVA.ID, PAPUA – Limbah pelepah sawit di Distrik Prafi, Manokwari, Papua Barat, didorong menjadi sumber pakan alternatif bagi sapi. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui program “Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya” memanfaatkan pelepah sawit sekaligus memperkuat pengelolaan kesehatan dan reproduksi ternak.

Ketua Tim TEP UNAIR, Prof. Dr. Erma Safitri, drh., M.Si., mengatakan program tersebut menyasar lebih dari 50 peternak dengan cakupan sekitar 1.000 ekor sapi. Pendampingan difokuskan kepada peternak potensial, terutama dalam pemanfaatan pakan alternatif serta pemantauan kesehatan, reproduksi, bobot, dan kondisi ternak secara lebih teratur.

“Selain pemanfaatan pakan alternatif, program ini menjawab kebutuhan peternak dalam memantau kesehatan, reproduksi, bobot, dan kondisi ternak secara lebih teratur,” ujar Prof. Erma.

Salah satu inovasi utama dalam program tersebut adalah SILPA-SAPI, yakni pengolahan pelepah sawit menjadi silase untuk pakan sapi. Pelepah dikumpulkan, dicacah, kemudian diberi aditif atau probiotik sebelum menjalani proses fermentasi secara anaerob selama 2–4 minggu.

Proses fermentasi menghasilkan pakan awetan yang lebih mudah dicerna. Pengolahan tersebut juga membantu menurunkan kadar serat kasar dan melunakkan tekstur pelepah sehingga lebih mudah dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Bagi peternak, pemanfaatan pelepah sawit tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pakan. Silase yang dihasilkan juga memiliki peluang untuk menjadi sumber nilai ekonomi baru.

Peternak dapat mengolah pelepah sawit untuk memenuhi kebutuhan ternaknya sendiri sekaligus menjual silase yang diproduksi.

“Konsep ini sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah perkebunan menjadi sumber daya produktif,” kata Prof. Erma.

Pendampingan tidak berhenti pada pengolahan pakan. TEP UNAIR juga menghadirkan Posyandu Ternak Keliling yang mendatangi lokasi peternak.

Layanan tersebut mencakup pendampingan kesehatan dan reproduksi sapi, pakan, sanitasi kandang, pengobatan, hingga pencatatan kondisi ternak.

Tim juga melatih kader ternak lokal agar pendampingan dapat terus dilakukan masyarakat setelah masa program berakhir.

Dalam pengelolaan ternak, setiap sapi sasaran mendapatkan kartu recording. Kartu tersebut memuat identitas ternak, kondisi kesehatan, bobot, Body Condition Score (BCS), kondisi reproduksi, riwayat pengobatan, serta pakan.

Pencatatan itu digunakan untuk membantu peternak memantau perkembangan sapi sekaligus mengenali gangguan kesehatan dan reproduksi sejak lebih awal.

Tim menargetkan bobot sapi tetap sesuai standar dan produktivitas reproduksi meningkat hingga mencapai target beranak satu kali dalam setahun.

Pelaksanaan program melibatkan kelompok peternak, kader lokal, serta BUMDes atau koperasi untuk mendukung produksi dan distribusi SILPA-SAPI. Koordinasi antara pemerintah, perusahaan inti, dan petani plasma juga dilakukan untuk membangun kemitraan yang berkelanjutan.

Melalui program tersebut, TEP UNAIR menargetkan peningkatan kapasitas peternak, pemanfaatan limbah sawit sebagai pakan, serta pengelolaan ternak berbasis data.

Sistem yang dibangun diharapkan dapat berjalan secara mandiri, direplikasi, dan memberikan manfaat ekonomi bagi peternak.

Program “Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya” turut mendukung SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60