Pendidikan

9 Dokter Baru Unusa Resmi Dilantik, Profesor Budi Tekankan Nine Star Doctor dan Empati

10
×

9 Dokter Baru Unusa Resmi Dilantik, Profesor Budi Tekankan Nine Star Doctor dan Empati

Sebarkan artikel ini
Unusa
Dekan Fakultas Kedokteran UNUSA, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG., Subsp.F.E.R., saat wawancara.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Menjadi dokter bukan sekadar tentang mengenakan jas putih dan menyandang gelar profesi. Di balik gelar tersebut terdapat tanggung jawab untuk mengabdikan ilmu kepada kemanusiaan. Pesan itu mengemuka dalam Pelantikan dan Sumpah Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ke-16 yang berlangsung di Auditorium Lantai 9, Kamis (13/8/2026).

Sebanyak sembilan dokter baru dilantik dan diambil sumpah dalam prosesi tersebut. Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG., Subsp.F.E.R., mengingatkan bahwa perjalanan menjadi dokter tidak berhenti setelah seseorang memperoleh gelar dan menyelesaikan pendidikan.

Menurut Prof Budi, keberhasilan para dokter baru juga merupakan buah dari dukungan dan doa orang tua. Karena itu, pencapaian tersebut selayaknya dibalas bukan dalam bentuk imbalan, melainkan melalui pengabdian dan pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan kemanusiaan.

“Saya yakin karena saya merasakan sebagai orang tua juga, orang tua tidak ingin mengharapkan suatu imbalan apapun juga, selain dharma bakti dari adik-adik dokter yang baru dilantik untuk bisa mengabdikan keilmuannya untuk kemanusiaan,” ujar Prof Budi.

Ia menyebut dunia kedokteran saat ini tengah menghadapi berbagai dinamika, termasuk adanya perbedaan pandangan di antara sejumlah institusi di Indonesia.

Situasi tersebut, menurut dia, perlu dihadapi dengan optimisme dan keyakinan bahwa akan terbentuk keseimbangan baru dalam dunia kedokteran dan pelayanan kesehatan Indonesia.

“Insya Allah keseimbangan baru akan dicapai di dunia kedokteran, dunia pelayanan kesehatan di Indonesia untuk yang lebih baik di masa-masa yang akan datang,” katanya.

Dalam menghadapi dinamika tersebut, Prof Budi meminta para dokter baru tetap menjalankan profesinya dengan sebaik mungkin berdasarkan keilmuan dan kompetensi yang telah dimiliki.

Ia mengatakan FK Unusa telah membekali mahasiswa agar memiliki kompetensi yang layak sebagai seorang dokter. Namun, kompetensi klinis saja tidak cukup untuk menjalankan profesi kedokteran secara utuh.

Prof Budi kemudian mengingatkan konsep seven star doctor. Dokter, kata dia, tidak hanya berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan, tetapi juga harus mampu menjalankan berbagai peran yang dibutuhkan ketika berada di tengah masyarakat.

Kemampuan memberikan pelayanan terbaik menjadi salah satu hal yang harus dimiliki. Pelayanan yang baik, menurut dia, akan membangun kepercayaan dan membuat masyarakat memberikan respek kepada dokter.

Di sisi lain, dokter juga harus memiliki kemampuan kepemimpinan. Seorang dokter dituntut menjadi leader yang baik sekaligus memiliki keberanian dalam mengambil keputusan.

Kemampuan menjadi komunikator juga menjadi perhatian. Prof Budi menilai persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat berkaitan dengan komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

Karena itu, dokter yang terjun ke masyarakat perlu belajar mengenal budaya sekaligus membangun komunikasi yang baik. Pemahaman terhadap lingkungan sosial menjadi bagian penting agar dokter mampu menjalankan perannya secara tepat.

“Tadi dari perwakilan adik-adik dokter menyampaikan sangat bagus sekali, bahwa ini bukan akhir dari garis untuk kita belajar tapi ini garis untuk kita terus belajar,” tuturnya.

Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60