KILASJAVA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memperkuat riset kesehatan melalui kerja sama akademik dengan University of Manchester. Upaya itu ditandai dengan International Guest Lecture yang menghadirkan pakar Molecular Cardiovascular Sciences, Prof. Delvac Oceandy, MD., PhD, di Kampus Unusa, Senin, (10/11/2026).
Kuliah tamu tersebut mengusung tema Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment.
Forum ini membahas perkembangan penelitian mengenai hubungan infeksi dengan perkembangan sistem saraf janin sekaligus membuka ruang penguatan jejaring riset kesehatan Unusa.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan kolaborasi internasional menjadi bagian penting dari strategi universitas dalam membangun budaya riset dan mengembangkan keunggulan akademik.
Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi yang baru dibuka.
“PPDS Obstetri dan Ginekologi Unusa akan menjadi pusat riset perkembangan otak manusia sejak dalam kandungan,” kata Prof. Tri Yogi dalam sambutannya.
Menurut dia, perkembangan saraf sejak masa awal kehidupan merupakan persoalan kesehatan yang kompleks.
Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu sehingga membutuhkan pertemuan berbagai bidang, mulai dari kedokteran, teknologi, sains data, kecerdasan buatan, teknik biomedis, hingga teknologi pencitraan.
“Jika dokter memetakan otak manusia, insinyur memetakan jaringan yang menghubungkan dunia. Hari ini, kedua dunia ini harus bersatu,” ujarnya.
Prof. Tri Yogi yang memiliki latar belakang sebagai insinyur melihat dunia kedokteran dan teknik memiliki titik temu dalam pemecahan masalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Menurutnya, riset medis kini semakin membutuhkan dukungan teknologi untuk memahami mekanisme penyakit, mendeteksi gangguan lebih dini, dan mengembangkan terapi yang lebih tepat sasaran.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa dan dosen Unusa untuk tidak berhenti pada pemahaman teori. Berbagai persoalan kesehatan, kata dia, perlu dilihat sebagai ruang untuk menghasilkan penelitian dan inovasi.
“Jangan hanya mendengarkan secara pasif. Pandanglah tantangan neurologis yang rumit ini sebagai sebuah panggilan. Tanyakan pada diri kalian bagaimana penelitian di masa depan dapat berkontribusi pada deteksi dini, pencegahan, dan penyelamatan generasi masa depan,” pesannya kepada mahasiswa.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K) memaparkan gagasan pembentukan Pusat Studi Perkembangan Otak dan Kapasitas Kognitif Sejak dalam Rahim.
Pusat studi tersebut diarahkan menjadi wadah penelitian multidisiplin yang mencakup kesehatan ibu, perkembangan janin, nutrisi, hingga tumbuh kembang anak.
Gagasan itu berangkat dari pandangan bahwa pembangunan kualitas manusia tidak semestinya baru dimulai ketika anak memasuki usia sekolah.
Perhatian terhadap kualitas manusia dapat dimulai sejak masa prakonsepsi dan kehidupan dalam kandungan.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi penelitian yang mengintegrasikan kesehatan ibu dan anak dengan perkembangan otak serta kapasitas kognitif sejak fase awal kehidupan.
Fokus tersebut juga sejalan dengan upaya memperluas riset kesehatan Unusa dari sekadar penanganan penyakit menuju pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan manusia sejak awal kehidupan.
Sementara itu, Prof. Delvac Oceandy memaparkan perkembangan terbaru penelitian mengenai pengaruh infeksi terhadap perkembangan sistem saraf janin.
Keahlian Prof. Delvac dalam biologi molekuler dan riset translasi diharapkan dapat memperkuat kapasitas penelitian Unusa.
Penguatan tersebut antara lain diarahkan melalui pengembangan jejaring laboratorium, pendampingan peneliti muda, serta peluang publikasi ilmiah bersama.
Kehadiran pakar dari University of Manchester tersebut juga diarahkan agar tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan melalui kuliah tamu.
Unusa menargetkan kerja sama berkembang ke penelitian bersama dan pengembangan kapasitas dosen serta residen PPDS.
Penguatan pusat unggulan di bidang kesehatan ibu dan anak juga menjadi bagian dari arah kolaborasi tersebut. Bidang ini menjadi penting dalam konteks penelitian perkembangan otak manusia sejak masa prenatal.
Bagi Unusa, penelitian mengenai perkembangan otak sejak dalam kandungan tidak hanya berkaitan dengan ilmu saraf.
Bidang tersebut bersinggungan dengan kesehatan ibu, kondisi janin, nutrisi, perkembangan anak, serta pemanfaatan teknologi dalam mendeteksi gangguan sejak dini.
Melalui kolaborasi internasional itu, Unusa ingin memperluas kontribusinya terhadap pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak awal kehidupan.
Riset perkembangan otak sejak masa prenatal diharapkan menghasilkan pengetahuan baru sekaligus membuka peluang intervensi kesehatan yang lebih dini dan berbasis bukti.
International Guest Lecture tersebut menjadi bagian dari agenda Unusa mempertemukan keahlian global, riset lintas disiplin, dan pengembangan pendidikan kedokteran spesialis.
Fokus pada riset kesehatan Unusa kini mencakup upaya memahami perkembangan manusia sejak fase prenatal, termasuk hubungan infeksi dengan perkembangan sistem saraf janin.













