Uncategorized

Profesor Soedarsono Ungkap Masa Depan Penanganan TB: Diagnosis Makin Cepat, Terapi Lebih Presisi

12
×

Profesor Soedarsono Ungkap Masa Depan Penanganan TB: Diagnosis Makin Cepat, Terapi Lebih Presisi

Sebarkan artikel ini
TB
Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K).

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Perlawanan terhadap tuberkulosis (TB) memasuki babak baru. Teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pemeriksaan molekuler, hingga biomarker tubuh mulai dikembangkan untuk membuat diagnosis lebih cepat dan pengobatan semakin sesuai dengan kondisi setiap pasien.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu bahasan utama Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K) dalam International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (10/8).

Dalam forum itu, Prof. Soedarsono memaparkan perkembangan mutakhir penelitian TB, termasuk strategi menemukan kasus lebih dini, mendeteksi resistansi obat, serta mengembangkan terapi berbasis kedokteran presisi.

Tantangan pengendalian TB bukan perkara kecil. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, pada 2024 diperkirakan terdapat 10,6 juta orang yang sakit TB di seluruh dunia dengan jumlah kematian mencapai 1,3 juta.

Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB dunia, atau sekitar 1,08 juta kasus. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua setelah India.

Kondisi itu membuat upaya eliminasi TB membutuhkan perubahan pendekatan. Inovasi, menurut salah satu pesan utama paparan Prof. Soedarsono, tidak cukup hanya bersifat inkremental.

Salah satu perubahan yang tengah berkembang ialah cara menemukan penderita TB. Pendekatan passive case finding mulai diarahkan menuju deteksi yang lebih proaktif dan berbasis risiko.

Kelompok tertentu perlu menjadi perhatian lebih besar, terutama kontak serumah pasien TB, penderita HIV, diabetes, malnutrisi, orang yang memiliki riwayat TB, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan padat.

Strategi tersebut ditujukan untuk menemukan kasus lebih awal sebelum penyakit berkembang atau penularan meluas.

Kemajuan teknologi digital ikut mengubah proses skrining. Foto toraks digital yang dipadukan dengan artificial intelligence (AI) dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60