KILASJAVA.ID, SURABAYA – Ijazah selama puluhan tahun menjadi salah satu penanda utama kompetensi seseorang ketika memasuki dunia kerja. Gelar sarjana, diploma, atau jenjang pendidikan formal lainnya menjadi pintu awal bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan dan membangun karier.
Namun, lanskap tersebut mulai berubah.
Perusahaan semakin membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki latar belakang pendidikan tertentu, tetapi juga mampu menunjukkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh seseorang beberapa tahun lalu tidak selalu memadai untuk menjawab kebutuhan pekerjaan hari ini.
Di tengah perubahan itu, muncul apa yang disebut sebagai kredensial alternatif atau alternative credentials. Bentuknya beragam, mulai dari microcredential, digital badge, sertifikat kursus daring, sertifikasi profesi, hingga portofolio digital yang mendokumentasikan kemampuan dan pengalaman seseorang.
Kredensial alternatif tidak serta-merta menghapus peran ijazah formal. Namun, keberadaannya mulai mengubah cara kompetensi seseorang dinilai. Dunia kerja secara perlahan bergerak dari sekadar mempertanyakan di mana seseorang belajar menuju pertanyaan yang lebih praktis: apa yang benar-benar dapat dikerjakan?
Perubahan tersebut berkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan siklus pendidikan formal.
Kurikulum perguruan tinggi membutuhkan proses akademik dan administratif yang panjang ketika harus menyesuaikan diri dengan perkembangan baru. Sementara itu, kebutuhan industri dapat berubah dalam hitungan bulan, bahkan minggu.
Generative AI, cloud computing, keamanan siber, analisis data, otomatisasi, dan berbagai teknologi digital lainnya berkembang dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh sistem pendidikan konvensional secara keseluruhan.
Di sinilah microcredential mendapatkan ruang.
Program microcredential pada dasarnya memungkinkan seseorang mempelajari kompetensi tertentu secara lebih spesifik dan dalam waktu relatif singkat. Seorang profesional tidak harus kembali ke bangku kuliah selama beberapa tahun hanya untuk mempelajari satu keterampilan baru yang dibutuhkan pekerjaannya.
Model tersebut sekaligus berkaitan dengan berkembangnya konsep skills-based hiring atau rekrutmen berbasis keterampilan.
Dalam model ini, ijazah tetap dapat menjadi salah satu indikator, tetapi bukan satu-satunya bukti kompetensi. Perekrut dapat mempertimbangkan sertifikasi, pengalaman kerja, hasil proyek, portofolio, kemampuan teknis, hingga kontribusi kandidat dalam proyek terbuka.
Perubahan cara pandang tersebut membuat portofolio digital semakin penting.
Seorang programmer, misalnya, dapat menunjukkan kemampuan melalui aplikasi yang pernah dibuat, kontribusi pada proyek open source, repositori kode, atau hasil pengembangan sistem yang dapat diuji. Seorang desainer dapat menunjukkan karya melalui portofolio visual. Seorang digital marketer dapat memperlihatkan hasil kampanye, pertumbuhan engagement, konversi, atau strategi pemasaran yang pernah dijalankan.







