Teknologi tersebut tidak berdiri sendiri sebagai pengganti pemeriksaan, tetapi dapat membantu proses skrining dan menentukan siapa yang perlu menjalani pemeriksaan molekuler.
Dengan pendekatan berbasis risiko dan teknologi digital, proses penemuan kasus diharapkan dapat menjadi lebih proaktif.
Perubahan lain terjadi pada jenis sampel untuk pemeriksaan TB. Diagnosis tidak lagi sepenuhnya diarahkan pada penggunaan sputum.
Prof. Soedarsono menjelaskan bahwa berbagai penelitian mengembangkan alternatif sampel, antara lain urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan, hingga biomarker respons tubuh.
Pengembangan tersebut penting karena tidak semua pasien dapat menghasilkan sputum yang memadai untuk pemeriksaan.
Pada 2026, WHO telah merekomendasikan penggunaan tongue swab dengan teknologi tertentu untuk orang dewasa dan remaja yang tidak dapat menghasilkan sputum. Meski demikian, pemeriksaan sputum masih memiliki sensitivitas lebih tinggi dan tetap menjadi pilihan utama apabila tersedia.
Biomarker Membaca Respons Tubuh
Riset TB juga mulai mengarah pada pemanfaatan biomarker host atau biomarker yang menggambarkan respons tubuh terhadap infeksi.
Sejumlah pendekatan yang dikembangkan meliputi transcriptomic signatures, proteomik, metabolomik, cytokine panels, dan immune signatures.
Penggunaan biomarker tersebut diharapkan dapat membantu membedakan infeksi, penyakit subklinis, dan TB aktif. Teknologi ini juga berpotensi membantu memprediksi kemungkinan perkembangan penyakit serta respons pasien terhadap terapi.
Dengan demikian, perhatian penelitian tidak hanya tertuju pada keberadaan bakteri, tetapi juga bagaimana tubuh pasien merespons penyakit tersebut.
Perubahan paradigma juga terjadi dalam pengobatan. Prof. Soedarsono menekankan bahwa pasien TB tidak dapat dipandang sebagai kelompok yang sepenuhnya homogen.













