Pendidikan

9 Dokter Baru Unusa Resmi Dilantik, Profesor Budi Tekankan Nine Star Doctor dan Empati

11
×

9 Dokter Baru Unusa Resmi Dilantik, Profesor Budi Tekankan Nine Star Doctor dan Empati

Sebarkan artikel ini
Unusa
Dekan Fakultas Kedokteran UNUSA, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG., Subsp.F.E.R., saat wawancara.

Bagi Prof Budi, kemampuan untuk terus belajar merupakan bagian dari karakter seorang dokter. Perkembangan ilmu kedokteran membuat profesi tersebut menuntut seseorang untuk tidak berhenti memperbarui pengetahuan dan kompetensinya.

Selain kemampuan profesional, dokter juga harus memiliki ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun, FK Unusa tidak hanya mengarahkan lulusannya menjadi seven star doctor. Prof Budi menyampaikan bahwa lulusan Unusa diharapkan berkembang menjadi nine star doctor.

Konsep tersebut disesuaikan dengan lambang Unusa dan lambang Nahdlatul Ulama yang memiliki sembilan bintang. Dua bintang tambahan berkaitan dengan entrepreneurship dan Rahmatan Lil Alamin.

Melalui entrepreneurship, dokter diharapkan mempunyai kemampuan untuk melihat peluang sekaligus mengubahnya menjadi tantangan yang dapat dijawab melalui gagasan kreatif dan tindakan inovatif.

“Bintang terakhir, kata dia, berkaitan dengan Rahmatan Lil Alamin, yakni dokter yang memberikan kemanfaatan kepada masyarakat.”

Nilai Rahmatan Lil Alamin tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengabdian para lulusan. Apa yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Unusa, termasuk aspek keagamaan dan sosial budaya yang baik, diharapkan dapat dibawa dalam perjalanan profesi mereka.

“Kita berharap apa yang diperoleh di Unusa, baik keagamaan, sosial budaya yang baik mereka bisa membawa nama baik Unusa dan mengharumkan nama Unusa dengan konsep Rahmatan Lil Alamin,” tutur Prof Budi.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Prof Budi juga menyinggung kehadiran artificial intelligence atau AI dalam dunia kedokteran.

Menurut dia, AI tidak dapat menggantikan manusia secara sempurna. Teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia, terutama karena AI tidak memiliki rasa empati.

“Tidak ada AI yang paling sempurna, behind the AI is Human. Di belakang itu pasti harus ada manusia. AI tidak memiliki rasa empati,” ujarnya.

Karena itu, AI menurut Prof Budi lebih tepat dipandang sebagai teknologi yang dapat melengkapi pekerjaan manusia. Kehadirannya dapat digunakan untuk menyempurnakan dan mempermudah pekerjaan sehingga hasil yang diperoleh dapat menjadi lebih baik.

Bagi para dokter baru yang baru saja mengucapkan sumpah profesi, kemampuan memanfaatkan perkembangan teknologi tetap perlu berjalan bersama kemampuan manusiawi seorang dokter.

Keilmuan dan kompetensi tetap menjadi dasar dalam memberikan pelayanan, sementara kemampuan berkomunikasi, memimpin, terus belajar, berinovasi, serta memberikan kemanfaatan kepada masyarakat menjadi bagian dari perjalanan profesi yang mereka jalani.

Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60