Pendidikan

Rektor Unusa: AI Tak Bisa Menggantikan Nurani Seorang Dokter

11
×

Rektor Unusa: AI Tak Bisa Menggantikan Nurani Seorang Dokter

Sebarkan artikel ini
UNUSA

KILASJAVA.ID, SURABAYA –  Kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi kesehatan membuat dunia kedokteran bergerak semakin cepat. Namun, bagi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), kecakapan teknologi tidak cukup menjadi bekal bagi dokter baru. Integritas, adab, dan empati tetap harus menjadi bagian utama dalam menjalankan profesi.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, saat melantik dan mengambil sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran Unusa, Kamis, 13 Agustus.

Dalam sambutannya, Tri Yogi menegaskan sumpah dokter bukan sekadar formalitas untuk memenuhi persyaratan profesi. Sumpah itu merupakan janji moral yang harus dibawa sepanjang perjalanan seorang dokter.

“Profesi dokter harus kalian dudukkan sebagai sebuah panggilan kemanusiaan, bukan alat mengejar materi semata,” ujar Tri Yogi.

Menurut dia, dokter lulusan Unusa memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar karena menempuh pendidikan dalam lingkungan yang menjunjung nilai Rahmatan lil ‘Alamin. Ilmu kedokteran, kata dia, harus berjalan bersama akhlak dan kepedulian terhadap sesama.

Tri Yogi juga mengingatkan bahwa tantangan profesi dokter tidak hanya muncul di ruang praktik. Perkembangan ruang digital turut menghadirkan persoalan mengenai etika, komunikasi, dan empati dalam pelayanan kesehatan.

Ia menyinggung kasus almarhum Yurizal Tri Chaerawan, pasien yang sebelumnya menyampaikan keluhan mengenai pelayanan kesehatan melalui media sosial. Menurut Tri Yogi, peristiwa tersebut perlu menjadi refleksi bagi dunia kesehatan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

“Kejadian memilukan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Saya haramkan perbuatan nirempati itu keluar dari jari atau lisan seorang dokter lulusan Unusa,” tegasnya.

Tri Yogi kemudian menyampaikan enam karakter yang harus melekat pada dokter lulusan Unusa. Karakter tersebut meliputi integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan menghormati sesama.

Integritas, menurut dia, diperlukan agar dokter tetap berpegang pada prinsip moral, termasuk ketika berhadapan dengan ruang digital. Sementara adab dan sopan santun menjadi dasar dalam membangun hubungan yang baik dengan pasien.

Empati juga mendapat perhatian khusus. Tri Yogi mengingatkan bahwa pasien datang kepada dokter dalam kondisi membutuhkan pertolongan. Mereka bisa membawa rasa takut, sakit, maupun kecemasan.

“Pasien adalah amanah kudus, bukan beban,” katanya.

Ia juga meminta para dokter memberikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial ataupun kondisi pasien. Kemampuan klinis, menurut Tri Yogi, harus berjalan bersama perilaku yang mencerminkan kemanusiaan.

Di tengah perkembangan teknologi, Tri Yogi meminta dokter baru tidak menutup diri terhadap perubahan. AI, telemedicine, genomik, big data, dan teknologi kesehatan lainnya telah mengubah cara profesi kedokteran bekerja.

Dengan latar belakang sebagai insinyur, Tri Yogi melihat perkembangan tersebut sebagai peluang bagi ilmu kedokteran untuk semakin terhubung dengan teknologi dan disiplin ilmu lainnya.

“Dunia kedokteran masa depan adalah dunia yang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi interdisipliner,” ujarnya.

Meski demikian, teknologi menurut dia tetap memiliki batas. AI dapat membantu dokter meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi tidak dapat menggantikan nilai kemanusiaan.

“Teknologi medis akan terus berubah, penyakit baru akan terus muncul, namun esensi kemanusiaan dari seorang dokter tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” kata Tri Yogi.

Karena itu, ia meminta dokter baru terus belajar sepanjang hayat. Gelar dokter yang diterima bukanlah titik akhir pendidikan, melainkan awal untuk terus memperbarui kompetensi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Para dokter baru yang akan menjalani program internship dan mengabdi di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia juga diminta menjaga nama baik Unusa.

Tri Yogi mengingatkan agar keterbatasan dalam sistem pelayanan tidak dijadikan alasan untuk melampiaskan kekecewaan kepada pasien.

“Di mana pun kalian ditempatkan, jaga nama baik almamater Unusa. Kibarkan bendera Unusa melalui prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah yang kalian tunjukkan kepada masyarakat,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, Tri Yogi juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah memberikan dukungan dan pengorbanan selama putra-putri mereka menempuh pendidikan kedokteran.

Ia menilai perjalanan seorang dokter tidak terlepas dari perjuangan keluarga yang mendampingi proses pendidikan yang panjang dan penuh tantangan.

“Kepada para dokter baru, selamat berjuang, selamat mengabdi. Selamat menyelamatkan kehidupan. Jadilah lilin yang menerangi kegelapan, dan jadilah rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya.

Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60