Example 728x250
Keagamaan

Kajian Majelis Ar-Rohimin Surabaya: Habib Musthofa Ingatkan Bahaya Lisan

8
×

Kajian Majelis Ar-Rohimin Surabaya: Habib Musthofa Ingatkan Bahaya Lisan

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Dari kiri: Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus, Habib Abdul Qadir Bin Zaid Ba'abud dan Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim.

Jika yang ditanam berupa dzikir, ilmu, nasihat dan perkataan baik, maka kebaikan yang berpotensi dipetik. Sebaliknya, apabila yang keluar dari lisan berupa dusta, ghibah, fitnah, namimah, cacian maupun perkataan yang menyakiti, konsekuensinya dapat menjadi keburukan.

Habib Musthofa juga mengangkat syair yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i رحمه الله tentang pentingnya mengendalikan ucapan.

“احْفَظْ لِسَانَكَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ
لَا يَلْدَغَنَّكَ إِنَّهُ ثُعْبَانُ”

Syair tersebut menggambarkan lisan seperti ular yang dapat menggigit pemiliknya apabila tidak dijaga.

Pada bait berikutnya disebutkan:

“كَمْ فِي الْمَقَابِرِ مِنْ قَتِيلِ لِسَانِهِ
كَانَتْ تَهَابُ لِقَاءَهُ الشُّجْعَانُ”

Pesan yang terkandung di dalamnya cukup keras. Seseorang yang memiliki keberanian, kedudukan maupun kekuatan tidak otomatis terbebas dari akibat buruk lisannya. Bahkan orang yang dahulu disegani dapat mengalami kehancuran akibat perkataannya sendiri.

Persoalan itu semakin relevan dalam kehidupan sehari-hari, ketika ucapan tidak hanya disampaikan secara langsung, tetapi juga melalui pesan singkat dan media sosial.

Seseorang dapat menganggap sebuah komentar sebagai candaan. Namun bagi orang yang menjadi sasaran, perkataan tersebut bisa menjadi penghinaan atau luka yang sulit dilupakan.

Karena itu, ungkapan “saya hanya bercanda” tidak serta-merta menghapus persoalan yang ditimbulkan sebuah ucapan. Candaan yang sehat tentu berbeda dengan humor yang dibangun melalui kebohongan, penghinaan, fitnah, pelecehan atau tindakan merendahkan orang lain.

Dalam kajian tersebut juga disampaikan kisah seseorang yang gugur dalam peperangan pada masa Rasulullah SAW. Ketika melihat orang tersebut, ada yang memberikan penilaian bahwa ia memperoleh kabar gembira berupa surga.

Namun Rasulullah SAW mengingatkan agar seseorang tidak terburu-buru memastikan kedudukan seseorang di sisi Allah. Penilaian manusia sering kali hanya didasarkan pada apa yang terlihat, sedangkan seluruh amal, niat dan keadaan batin seseorang berada dalam pengetahuan Allah.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran kesalehan tidak berhenti pada tindakan yang tampak di hadapan manusia. Perilaku sehari-hari, termasuk cara seseorang berbicara, juga menjadi bagian dari pertanggungjawaban.

Dalam kehidupan sosial, kemampuan menahan ucapan sering kali lebih sulit daripada berbicara. Seseorang dapat dengan mudah mengeluarkan kata-kata ketika marah, kecewa atau merasa tersinggung. Setelah ucapan itu terlontar, penyesalan tidak selalu mampu mengembalikan keadaan seperti semula.

Karena itu, jamaah diajak membangun kebiasaan sederhana sebelum berbicara: memastikan kebenaran informasi, mempertimbangkan manfaatnya, memperhatikan kemungkinan adanya pihak yang tersakiti, serta mempertanyakan apakah perkataan tersebut diridai Allah.

Lisan yang baik bukan berarti seseorang harus selalu berbicara. Dalam keadaan tertentu, diam justru menjadi bentuk kehati-hatian.

Nasihat tersebut tergambar dalam ungkapan:

“لِسَانُكَ أَسَدٌ إِنْ أَطْلَقْتَهُ أَكَلَكَ، وَإِنْ أَمْسَكْتَهُ حَفِظَكَ”

Lisan diibaratkan seperti singa. Ketika dilepaskan tanpa kendali, ia dapat membinasakan pemiliknya. Namun ketika mampu dikendalikan, lisan justru menjadi sesuatu yang menjaga manusia dari berbagai akibat buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60