KILASJAVA.ID, SURABAYA – Proses pengeringan tembakau yang selama ini bergantung pada sinar matahari membuat petani harus menunggu kondisi cuaca. Persoalan itu mendorong Ishmatu Aulia Rizky Kirana, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), mengembangkan teknologi pengering tembakau AutoDry Boost.
Inovasi tersebut mengantarkan Aulia meraih Juara 3 dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional tingkat Diploma, Sabtu (10/8) lalu.
Mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS itu mengembangkan Autonomous Drying Acceleration System for Post-Harvest Processing untuk membantu petani tembakau di Desa Sumberagung, Tuban.
Selama ini, petani di wilayah tersebut masih menggunakan metode pengeringan konvensional dengan mengandalkan sinar matahari atau sun & curing.
Ketergantungan terhadap cuaca membuat proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 6-12 hari. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan mutu tembakau bervariasi dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga 30 persen.
“Padahal, produksi tembakau di Indonesia tergolong tinggi, mencapai 238.800 ton pada tahun 2023 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” kata Aulia.
Gunakan Teknologi Hot Air Drying
AutoDry Boost dirancang dengan teknologi hot air drying yang dilengkapi sistem kontrol otomatis secara terintegrasi.
Aulia mengembangkan alat tersebut dengan pendampingan Ir Safira Firdaus Mujiyanti ST MT selaku dosen pembimbing.
Sistem pengering dilengkapi blower heater yang berfungsi mendistribusikan udara panas secara merata. Selain itu, terdapat panel box control dan tiga unit exhaust fan.
Daun tembakau segar ditempatkan pada nampan atau tray di dalam drying chamber. Alat tersebut memiliki kapasitas total hingga 100 kilogram.
Proses pengeringan dipantau menggunakan sensor RTD PT-100. Sensor tersebut berfungsi menjaga kestabilan suhu pada rentang optimum 69-71 derajat Celsius melalui mekanisme on-off control secara langsung.
Tidak hanya suhu, sistem juga memantau penurunan massa daun tembakau menggunakan sensor load cell.
Sensor tersebut digunakan untuk mengestimasi penurunan kadar air hingga mencapai kondisi optimal.
“Alat ini mengintegrasikan sensor load cell untuk mengukur penurunan massa guna mengestimasi penurunan kadar air hingga mencapai kondisi optimal,” ujar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Vokasi ITS tersebut.
Pengeringan 100 Kilogram Hanya 2-3 Jam
Salah satu keunggulan AutoDry Boost terletak pada waktu pengeringan.
Jika metode konvensional membutuhkan waktu sekitar 6-12 hari, alat yang dikembangkan Aulia mampu memangkas proses tersebut menjadi 2-3 jam untuk kapasitas 100 kilogram.
Selain mempercepat proses, alat tersebut dirancang agar dapat digunakan dalam berbagai kondisi cuaca. Sistemnya juga dibuat hemat ruang, terjangkau, serta mudah dioperasikan oleh petani.
Dari sisi ekonomi, penggunaan AutoDry Boost dapat menekan biaya operasional sebesar 54,8 persen.
Alat tersebut juga mampu mengurangi limbah busuk setiap panen hingga sekitar 30 persen.
Kapasitas produksi pun dapat meningkat dari 1,5 ton menjadi 4 ton per musim. Peningkatan tersebut diperkirakan dapat berdampak pada kenaikan pendapatan bersih petani dan kapasitas penjualan tembakau kering.
“Dampak ini diperkirakan juga berimbas pada kenaikan pendapatan bersih petani serta peningkatan kapasitas penjualan tembakau kering,” ungkap finalis Duta ITS 2025 itu.
Pengembangan AutoDry Boost hingga 2028
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, penerapan teknologi ini tetap memiliki tantangan.
Aulia memperhatikan keterbatasan adaptasi petani terhadap teknologi modern, kebutuhan modal investasi awal, serta ketergantungan terhadap energi fosil.
Untuk mengatasinya, ia menawarkan pelatihan dan pendampingan teknis pengoperasian alat secara berkala.
Selain itu, Aulia menawarkan pembentukan skema pembiayaan kolaboratif bersama pemerintah desa.
Pengembangan AutoDry Boost juga diarahkan menuju penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Aulia telah menyusun peta jalan pengembangan secara bertahap.
Pada 2026, pengembangan difokuskan pada substitusi energi fosil ke energi terbarukan serta penambahan sensor load cell pada setiap nampan.
Kemudian pada 2027, pengembangan diarahkan pada penyesuaian standar mutu kadar air untuk komoditas pertanian lainnya.
Sementara pada 2028, proyek tersebut menargetkan replikasi secara terstruktur untuk memperluas dampak positif ke wilayah sentra pascapanen lainnya.
AutoDry Boost dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pascapanen tembakau sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Inovasi tersebut berkaitan terutama dengan SDGs poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.













