Keagamaan

Menjaga Telinga di Era Digital, Pesan Imam Al-Ghazali Kembali Diingatkan di Majelis Ar-Rohimin

17
×

Menjaga Telinga di Era Digital, Pesan Imam Al-Ghazali Kembali Diingatkan di Majelis Ar-Rohimin

Sebarkan artikel ini

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Menjaga telinga ternyata bukan sekadar menghindari suara yang mengganggu atau memilih informasi yang ingin didengar. Lebih jauh dari itu, pendengaran merupakan salah satu pintu yang dapat mengantarkan manusia kepada kebaikan, sekaligus menjadi jalan masuk bagi sesuatu yang dapat mengotori hati.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok kajian Majelis Ar-Rohimin pada 12 Agustus 2026. Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa bin Zen, mengangkat pembahasan tentang حفظ الأذن atau menjaga telinga dengan merujuk pada nasihat Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah.

Dalam pandangan Imam al-Ghazali, setiap anggota tubuh merupakan amanah yang harus dijaga. Telinga tidak terkecuali.

Apa yang masuk melalui pendengaran bukan sesuatu yang semestinya diterima tanpa pertimbangan, sebab suara dan pembicaraan yang didengar seseorang dapat meninggalkan pengaruh terhadap pikiran, hati, hingga perilakunya.

Karena itu, seorang Muslim dituntut memiliki kehati-hatian dalam menggunakan pendengarannya. Telinga tidak seharusnya menjadi sarana untuk menikmati perkara yang menjauhkan manusia dari Allah.

Perkataan batil, keburukan, pembicaraan yang mengandung dosa, hingga percakapan yang tidak membawa manfaat perlu disikapi dengan kewaspadaan.

Habib Musthofa bin Zen menjelaskan sejumlah perkara yang patut dihindari dalam menjaga pendengaran. Di antaranya ghibah atau menggunjing, namimah atau adu domba, perkataan keji, membuka rahasia orang lain, serta mencari-cari kesalahan sesama manusia.

Persoalannya bukan hanya pada siapa yang mengucapkan perkataan buruk. Mereka yang sengaja membuka telinga untuk mendengarkannya juga perlu melakukan muhasabah. Sebab, mendengarkan pembicaraan tentang keburukan orang lain dapat membuat seseorang larut dalam percakapan yang tidak semestinya.

Di sinilah pesan menjaga telinga memiliki dimensi moral yang lebih luas. Dosa tidak selalu bermula dari tindakan yang terlihat. Ia dapat berawal dari sesuatu yang masuk melalui pendengaran, kemudian menetap dalam pikiran, memengaruhi hati, dan pada akhirnya tercermin melalui sikap serta perilaku.

Pendengaran, dengan demikian, bukan sekadar fungsi biologis. Ia merupakan nikmat yang memiliki konsekuensi spiritual. Apa yang didengar manusia menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya.

Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60