Example 728x250
Artikel

Mengais Rezeki di Usia Senja, Munawar Bertahan Jualan di Jalanan Surabaya

3
×

Mengais Rezeki di Usia Senja, Munawar Bertahan Jualan di Jalanan Surabaya

Sebarkan artikel ini
Munawar
Munawar dan dagangannya, menebar ilmu dalam diam.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Pukul enam pagi, ketika sebagian orang baru bersiap memulai hari, Bapak Munawar sudah menggelar lapaknya di tepi Jalan Pasar Kembang, Surabaya.

Usianya 88 tahun. Barang dagangannya berupa poster, kalender, dan buku bacaan. Lapaknya sederhana, tetapi rutinitasnya berjalan dengan disiplin yang tidak sederhana.

Setiap pagi, Munawar menempati sisi kiri Jalan Pasar Kembang, tepat setelah Jalan Tempel Sukorejo I. Ia bertahan hingga pukul 10.00 WIB.

Di antara kendaraan yang melintas dan orang-orang yang bergegas menuju tujuan masing-masing, ia menunggu pembeli datang.

Tidak semua orang sempat berhenti. Sebagian mungkin hanya melintas, tanpa menyadari bahwa di tepi jalan itu ada seorang lelaki lanjut usia yang masih tekun mencari nafkah.

Namun, bagi Munawar, waktu tidak berhenti hanya karena usia bertambah. Setelah menutup lapaknya pada pagi hari, ia kembali menjalani aktivitas pada petang hari.

Sekitar pukul 18.00 WIB, Munawar berpindah ke Jalan Kedungdoro, mengambil posisi di jalur menuju Tegalsari, tepat sebelum pertigaan lampu merah.

Di lokasi itu, ia kembali menawarkan dagangannya hingga pukul 22.00 WIB.

Empat jam pada pagi hari. Empat jam lagi pada malam hari. Begitulah rutinitas yang dijalaninya di tengah lalu lintas Kota Surabaya.

Poster, kalender, dan buku bacaan yang dijualnya mungkin terlihat biasa. Nilai setiap barang tentu bergantung pada pembeli yang membutuhkannya.

Tetapi, di balik lapak itu, ada ikhtiar yang terus dijalankan seorang lelaki berusia 88 tahun.

Tidak ada panggung. Tidak ada sorotan. Hanya lapak kecil, barang dagangan, dan waktu panjang yang ia gunakan untuk menjemput rezeki.

Usia senja kerap dipahami sebagai masa untuk mengurangi aktivitas dan memperbanyak istirahat. Kehidupan Munawar memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Ia masih menjalani rutinitas berjualan, berpindah lokasi, dan menunggu pembeli di tengah kesibukan kota.

Bagi warga yang melintas di Jalan Pasar Kembang pada pagi hari atau Jalan Kedungdoro pada malam hari, lapak Munawar bisa menjadi alasan untuk berhenti sejenak.

Menyapa, berbincang, atau membeli salah satu barang dagangannya merupakan cara sederhana untuk mengenal lebih dekat sosok yang setiap hari hadir di antara hiruk-pikuk Surabaya itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60