KILASJAVA.ID, SURABAYA – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Universitas Airlangga (UNAIR), IMERCY bersama BEM Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), meraih penghargaan Tim Pelaksana Terbaik 2 kategori Tim dengan Program Paling Inovatif dalam ajang Abdidaya Ormawa 2026. Penghargaan tersebut diberikan pada Sabtu (24/10/2026) di Universitas Muslim Indonesia, Makassar.
Prestasi itu diraih melalui program SIGAP (Sistem Terintegrasi Budidaya Kepiting Bakau Berbasis RAS, IoT, dan Energi Surya) yang diterapkan di Desa Tanjangawan, Gresik. Program ini mengintegrasikan inovasi teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan budidaya perikanan, khususnya kepiting bakau.
Ketua Tim SIGAP, Akiqotus Syahriyah, mengatakan program tersebut telah melalui tahap evaluasi dan penyempurnaan sistem.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah Vertical Crab House (VCH), teknologi yang terbukti mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau.
โProgram SIGAP yang diterapkan mampu meningkatkan survival rate kepiting bakau dari 50 persen menjadi 78 persen. Selain itu, penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digunakan juga terbukti dapat memangkas biaya listrik hingga 36 persen per bulan,โ ujarnya.
Selain meningkatkan kelangsungan hidup kepiting bakau dan menekan biaya operasional, SIGAP menghadirkan sistem pemantauan kualitas air berbasis aplikasi.
Melalui SIGApp, pembudidaya dapat memantau kondisi air secara real-time sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat ketika ditemukan perubahan kondisi yang berpotensi mengganggu budidaya.
โPemantauan kualitas air kini dapat dilakukan secara real-time melalui aplikasi SIGApp, sehingga para pembudidaya bisa langsung mengambil tindakan preventif,โ kata Akiqotus.
Keberlanjutan program juga diperkuat melalui pembentukan kelompok Smart Crab Farming. Anggota Tim SIGAP, Emanuel Yudhistira, menjelaskan bahwa kelompok tersebut dibagi menjadi empat divisi dan telah memperoleh legitimasi resmi melalui surat keputusan (SK) Kepala Desa Tanjangawan.
Menurut Emanuel, pembentukan kelompok tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian masyarakat dalam menjalankan kegiatan budidaya.
Warga tidak hanya menggunakan teknologi yang diperkenalkan, tetapi juga mulai mampu mengelola operasionalnya secara mandiri.
โMasyarakat kini sudah mampu mengoperasikan sistem, membuat pakan, dan merawat peralatan secara mandiri meskipun tanpa pendampingan dari kami. Berdasarkan hasil evaluasi akhir, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program SIGAP telah mencapai 85 persen,โ katanya.
Melalui Abdidaya Ormawa 2026, tim berharap SIGAP dapat berlanjut ke skema program pengembangan PPK Ormawa agar manfaatnya menjangkau wilayah lain.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kendala kesulitan benih kepiting bakau sekaligus menyediakan solusi budidaya yang berkelanjutan.
Tim juga berharap penerapan program SIGAP dapat meningkatkan keterampilan masyarakat serta mendorong pertumbuhan perekonomian Desa Tanjangawan.





















