Example 728x250
Pendidikan

UNAIR Latih Warga Manokwari Olah Limbah Sawit Jadi Media Tanam Jamur Tiram

3
×

UNAIR Latih Warga Manokwari Olah Limbah Sawit Jadi Media Tanam Jamur Tiram

Sebarkan artikel ini
Unair

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai media tanam jamur tiram untuk membuka peluang usaha dan meningkatkan ekonomi masyarakat di Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Program tersebut diwujudkan melalui pelatihan pembuatan baglog atau media tanam jamur tiram berbahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS), sekaligus pengolahan jamur menjadi produk pangan.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (8/10/2026) itu digelar di Kampung Desay, Manokwari, dengan melibatkan masyarakat setempat.

Tim yang diketuai Prof. Dr. apt. Sukardiman, M.S. tersebut memperkenalkan tahapan pengolahan TKKS menjadi media budidaya jamur tiram.

Prosesnya meliputi pencacahan dan pengomposan tandan kosong sawit, pencampuran bahan tambahan, pengemasan ke dalam plastik, sterilisasi, hingga penanaman bibit jamur.

Menurut Sukardiman, tandan kosong kelapa sawit mengandung selulosa dan lignoselulosa yang dapat mendukung pertumbuhan jamur. Kandungan tersebut menjadikan TKKS berpotensi sebagai alternatif serbuk gergaji yang lazim digunakan dalam budidaya jamur tiram.

โ€œTKKS mengandung selulosa dan lignoselulosa yang dapat mendukung pertumbuhan jamur. Bahan ini berpotensi menjadi alternatif serbuk gergaji yang umum digunakan dalam budidaya jamur tiram. Pemanfaatannya juga membuka peluang untuk mengurangi timbunan limbah kelapa sawit di lingkungan sekitar,โ€ jelas Sukardiman.

Dalam pelatihan itu, masyarakat juga mempelajari komposisi media tanam yang terdiri atas TKKS, dedak padi, kapur atau dolomit, serta air.

Ketepatan komposisi bahan, kebersihan selama proses pengolahan, dan pengaturan kelembapan menjadi faktor penting untuk menunjang pertumbuhan miselium jamur.

Setelah bibit ditanam, pembudidaya perlu menjaga suhu dan kelembapan ruang tumbuh agar jamur berkembang dengan baik hingga memasuki masa panen. Penguasaan tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan teknik budidaya jamur tiram berbasis limbah sawit.

Selain mengajarkan pembuatan media tanam, TEP UNAIR memperkenalkan diversifikasi produk melalui pengolahan jamur tiram menjadi nugget.

Langkah ini memberikan alternatif pemanfaatan hasil panen, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan jamur dalam kondisi segar.

Sukardiman menjelaskan, jamur tiram mengandung protein, serat pangan, vitamin B kompleks, dan berbagai mineral.

Pengolahannya menjadi nugget dapat memperluas pilihan pangan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha makanan olahan di Kampung Desay.

โ€œJamur tiram mengandung protein, serat pangan, vitamin B kompleks, dan berbagai mineral. Pengolahannya menjadi nugget dapat memperluas pilihan pangan sekaligus membuka peluang usaha makanan olahan bagi masyarakat Kampung Desay,โ€ ujarnya.

Pengembangan produk olahan juga memungkinkan masyarakat meningkatkan nilai jual melalui pengemasan, penyimpanan beku, dan strategi pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan limbah sawit diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan media budidaya, tetapi juga mendukung pengembangan produk pangan yang berpotensi dipasarkan.

Program optimalisasi limbah sawit oleh TEP UNAIR ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60