Example 728x250
Keagamaan

Bahtera Keselamatan di Akhir Zaman, Pesan Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi di Majelis Ar-Rohimin

8
×

Bahtera Keselamatan di Akhir Zaman, Pesan Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi di Majelis Ar-Rohimin

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Al-Habib Muhammad bin Husein al-habsy (dua dari kiri), saat silaturahmi di Majelis Ar-Rohimin pada acara rutinan Rabu malam.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Majelis Ar-Rohimin mendapat kunjungan istimewa dari Al-Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi dari Solo dalam pengajian rutin Rabu malam, (28/10/2026).

Dalam tausiyah bertema โ€œBahtera Keselamatan di Akhir Zamanโ€, ia mengajak jemaah memperkuat ilmu agama, menjaga hubungan dengan ulama, serta lebih kritis menyikapi derasnya informasi di media sosial.

Di hadapan jemaah, Habib Muhammad menyampaikan tausiyah dengan suasana santai dan komunikatif. Ia mengawali pertemuan dengan ungkapan syukur atas kesempatan bersilaturahmi sekaligus membalas kunjungan yang sebelumnya dilakukan oleh jamaah Majelis Ar-Rohimin.

Menurut dia, pertemuan antarmajelis tidak semata-mata menjadi agenda pengajian, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan dan menjaga kesinambungan silaturahmi di antara umat Islam.

Dalam pemaparannya, Habib Muhammad menyoroti perubahan perilaku masyarakat seiring perkembangan teknologi komunikasi.

Ia mencontohkan telepon genggam yang pada awal kemunculannya dirancang untuk memudahkan komunikasi jarak jauh, tetapi dalam perkembangannya justru berpotensi menjauhkan orang-orang yang berada dalam satu ruang.

Ia menggambarkan situasi keluarga yang berkumpul untuk makan bersama, tetapi setiap anggota sibuk dengan telepon genggam masing-masing.

Interaksi langsung yang semestinya terbangun dalam keluarga pun tergantikan oleh perhatian terhadap layar perangkat digital.

โ€œHP yang awalnya mendekatkan yang jauh, jadinya menjauhkan yang dekat,โ€ ujarnya dalam tausiyah tersebut.

Bagi Habib Muhammad, perubahan semacam itu menjadi salah satu gambaran tantangan kehidupan pada akhir zaman.

Kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan penguatan hubungan sosial, kedekatan keluarga, dan kualitas kehidupan manusia.

Ia juga mengingatkan jemaah agar tidak mudah menelan informasi yang beredar di media sosial. Menurut dia, derasnya arus informasi dapat membuat masyarakat kesulitan membedakan fakta, opini, dan kabar yang sengaja dibentuk untuk memengaruhi persepsi publik.

Habib Muhammad mengibaratkan praktik pembentukan citra pada masa lalu melalui syair yang digunakan untuk menggambarkan seseorang sebagai sosok dermawan atau memiliki kelebihan tertentu.

Dalam perkembangannya, pola tersebut dinilai menyerupai praktik pencitraan melalui media digital, termasuk penggunaan buzzer untuk menyebarkan pesan secara berulang hingga membentuk opini masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa penilaian terhadap seseorang tidak semestinya hanya didasarkan pada informasi yang ramai diperbincangkan.

Masyarakat perlu memeriksa kebenaran kabar dan mempertimbangkan fakta sebelum menarik kesimpulan.

Menurut dia, kaburnya batas antara informasi yang benar dan menyesatkan merupakan salah satu tantangan serius yang harus dihadapi umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60