KILASJAVA.ID, SEMARANG – Asosiasi Relawan dan Pengelola Jurnal Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (ARJUNU) bersama Relawan Jurnal Indonesia (RJI) menggelar ARJUNU–RJI International Forum on Journal Excellence 2026 di Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS), Semarang.
Forum yang mengusung tema “Connecting Editors, Sharing Experience, and Building Global Collaboration” tersebut menjadi ruang pertemuan bagi pengelola jurnal, akademisi, serta jejaring editor nasional dan internasional untuk berbagi pengalaman, memperkuat tata kelola publikasi ilmiah, sekaligus membangun kolaborasi menuju peningkatan rekognisi jurnal Indonesia di tingkat global.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid itu menghadirkan sejumlah tokoh dan pengelola jurnal, di antaranya Prof. Ainun Na’im, Ph.D., Ketua LPTNU PBNU; Prof. Dr. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., Rektor Universitas Wahid Hasyim; Ali Formen, Ph.D., Pembina ARJUNU; Dr. Arbain, M.Pd., Ketua Umum Relawan Jurnal Indonesia (RJI); serta Dr. Fifi Khoirul Fitriyah, M.Pd., Ketua ARJUNU.
Dalam pembukaan kegiatan, Rektor Universitas Wahid Hasyim, Prof. Dr. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., menegaskan pentingnya peningkatan kualitas dan reputasi jurnal ilmiah sebagai bagian dari penguatan ekosistem akademik perguruan tinggi.
Menurut Helmy, jurnal memiliki posisi strategis dalam mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, peningkatan kualitas pengelolaan jurnal perlu terus dilakukan agar semakin banyak jurnal Indonesia memperoleh pengakuan internasional, termasuk melalui indeksasi Scopus.
“Kami sangat mendukung perkembangan jurnal-jurnal di Indonesia. Harapannya semakin banyak jurnal Indonesia yang mampu masuk dan terindeks Scopus. UNWAHAS sendiri saat ini telah mengajukan dua jurnal ke Scopus, dan tentu kita semua berharap keduanya dapat lolos,” ungkapnya, Sabtu (22/8/2026).
Saat ini, Universitas Wahid Hasyim terus mendorong peningkatan kualitas jurnal yang dikelolanya. Dua jurnal di lingkungan UNWAHAS telah diajukan untuk proses indeksasi Scopus.
Helmy berharap forum kolaboratif seperti ARJUNU–RJI International Forum on Journal Excellence dapat mempercepat pertukaran pengetahuan antar pengelola jurnal serta membuka ruang kerja sama yang lebih luas.
Pembina ARJUNU Ali Formen, Ph.D., menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi yang terbangun antara ARJUNU dan RJI dalam penyelenggaraan forum internasional tersebut.
Menurutnya, kerja sama antar komunitas dan organisasi pengelola jurnal menjadi salah satu modal penting dalam membangun ekosistem publikasi ilmiah yang lebih kuat.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada RJI yang telah bekerja sama dengan ARJUNU. Semoga kerja sama ini dapat terus berjalan dengan baik, semakin berkembang, dan pada akhirnya membawa manfaat yang lebih luas bagi perguruan tinggi, masyarakat, dan umat,” ujarnya.
Ali berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan forum, tetapi berkembang menjadi berbagai program bersama untuk meningkatkan kapasitas editor dan kualitas jurnal.
Ketua Umum Relawan Jurnal Indonesia (RJI), Dr. Arbain, M.Pd., menyambut positif kerja sama antara RJI, ARJUNU, dan jaringan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).
Ia menjelaskan, RJI memiliki pengalaman panjang dalam pendampingan tata kelola jurnal, penguatan kapasitas editor, serta membangun jejaring dengan berbagai mitra akademik di tingkat nasional maupun internasional.
Pengalaman tersebut, kata Arbain, menjadi modal yang dapat dibagikan dan dikembangkan bersama ARJUNU untuk memperkuat kualitas pengelolaan jurnal di lingkungan PTNU.
“Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan ARJUNU dan PTNU. Berbagai pengalaman RJI dalam pengelolaan jurnal, pendampingan editor, hingga membangun kolaborasi dengan berbagai negara tentu dapat kita bagikan dan kembangkan bersama ARJUNU,” ujar Arbain.
Menurutnya, ARJUNU dan RJI memiliki kekuatan yang saling melengkapi. ARJUNU memiliki jejaring PTNU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sementara RJI memiliki pengalaman dalam membangun komunitas serta tata kelola jurnal.
Ketua ARJUNU, Dr. Fifi Khoirul Fitriyah, M.Pd., yang juga Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, mengatakan kolaborasi dengan RJI merupakan bagian dari strategi ARJUNU untuk memperluas jejaring sekaligus mempercepat pemerataan perkembangan jurnal PTNU di berbagai daerah.
Ia menjelaskan, Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian dalam rangkaian kegiatan ARJUNU karena memiliki potensi besar dalam pengembangan jurnal, meski ekosistemnya masih perlu terus diperkuat.
“Kami memang sengaja mulai memperbanyak kegiatan ARJUNU di Jawa Tengah. Dari pemetaan kami, perkembangan jurnal di wilayah ini masih perlu terus didorong, sementara potensinya sangat besar. Kami berharap suatu saat gerakan dan ekosistem jurnal di Jawa Tengah dapat berkembang secara masif seperti yang saat ini mulai terbentuk di Jawa Timur,” ujar Fifi.
Menurut Fifi, pengembangan jurnal tidak hanya berorientasi pada pencapaian akreditasi maupun indeksasi. Hal yang lebih penting adalah membangun ekosistem pengelolaan jurnal yang sehat dan berkelanjutan.
Ekosistem tersebut mencakup peningkatan kapasitas editor, kualitas artikel, jejaring reviewer, keberagaman penulis dan afiliasi, konsistensi penerbitan, tata kelola serta keamanan Open Journal System (OJS), hingga kemampuan jurnal membangun konektivitas dengan komunitas akademik internasional.
“Target akhirnya tentu kita ingin semakin banyak jurnal PTNU yang mendapatkan rekognisi nasional maupun internasional. Tetapi sebelum sampai ke sana, editornya harus kuat, jejaringnya harus luas, tata kelolanya harus baik, dan kolaborasinya harus hidup. Karena jurnal yang baik tidak mungkin dibangun sendirian,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut juga digelar International Editors Panel bertajuk “Connecting Editors Across Border: Sharing Experience for Journal Excellence”.
Panel menghadirkan Dr. Sanju Kumar Singh dari University of Nepal; Rani Darmayanti, M.Pd., dari Universitas NU Pasuruan; Dr. Arsalan Khan, Postdoctoral Researcher UNUSA; serta Dr. Ahmad Sirajuddin dari EIC Kharisma.
Melalui sesi berbagi pengalaman, diskusi panel, editorial best practices, dan networking antareditor, forum tersebut diarahkan tidak hanya sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai upaya membangun jejaring kerja antara pengelola jurnal Indonesia dengan mitra internasional.
ARJUNU dan RJI menilai tantangan jurnal Indonesia ke depan tidak lagi hanya berkaitan dengan pemenuhan standar administratif akreditasi. Jurnal nasional perlu bergerak menuju peningkatan kualitas substansi, profesionalisme tata kelola, keberagaman penulis dan editor, peningkatan visibilitas, serta penguatan jejaring akademik internasional.
Melalui ARJUNU–RJI International Forum on Journal Excellence 2026, kolaborasi antara ARJUNU, RJI, LPTNU, perguruan tinggi, dan jejaring editor internasional terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem jurnal Indonesia.














