KILASJAVA.ID, SULAWESI TENGAH – Melimpahnya komoditas pertanian di Kawasan Transmigrasi Bungku, Morowali, Sulawesi Tengah, menjadi peluang bagi Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) untuk mendorong peningkatan nilai ekonomi masyarakat. Melalui pendekatan hilirisasi, tim tersebut mulai mengembangkan berbagai produk olahan berbasis rempah lokal agar hasil pertanian warga memiliki nilai jual lebih tinggi.
Sejumlah komoditas unggulan seperti serai, lengkuas, pandan, dan kelapa mulai diolah menjadi produk konsumsi yang lebih tahan lama dan memiliki potensi pasar lebih luas.
Produk yang dikembangkan antara lain teh serai, serundeng lengkuas, lengkuas kering, serta olahan pandan kering yang dapat digunakan sebagai campuran minuman herbal.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UNAIR, Dr Siti Rahayu Nadhiroh SKM MKes, mengatakan pengembangan produk tersebut diawali dengan pemetaan potensi komoditas lokal yang tersedia di kawasan Bungku.
Hasil pemetaan kemudian dibahas melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama petani, peternak, perangkat desa, dan kader PKK Desa Bahoea Reko-Reko pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut Nadhiroh, masyarakat memberikan respons positif terhadap berbagai inovasi produk yang diperkenalkan, terutama serundeng lengkuas. Komoditas lengkuas dinilai memiliki peluang besar karena ketersediaannya cukup melimpah dan pasokannya relatif stabil.
“Masyarakat sangat antusias, terutama dengan produk serundeng lengkuas. Pasokan lengkuas di kawasan ini cukup melimpah sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan,” ujar Nadhiroh yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR.
Namun, pengembangan produk olahan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Dalam forum diskusi, para petani menyampaikan kekhawatiran mengenai keterbatasan modal usaha serta kepastian pasar bagi produk yang dihasilkan.
Selama ini, sebagian warga masih mengalami kendala dalam memasarkan hasil panen rempah segar. Kondisi tersebut membuat masyarakat membutuhkan pendampingan lanjutan agar inovasi pengolahan tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi berkelanjutan.
Menjawab persoalan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot UNAIR menyiapkan sejumlah strategi pendampingan, mulai dari workshop pengolahan produk, validasi pasar, hingga uji coba pemasaran.
Tim juga akan membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta pelaku usaha lokal untuk memperkuat rantai pemasaran.
“Kami ingin produk ini tidak berhenti sebagai hasil pelatihan saja, tetapi dapat tumbuh menjadi produk khas Bungku yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Nadhiroh.
Tim Ekspedisi Patriot UNAIR terdiri atas satu ketua dan lima anggota yang akan mendampingi masyarakat Bungku selama empat bulan.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia untuk memperkuat potensi ekonomi kawasan transmigrasi.














