Example 728x250
Pendidikan

ARSHA Spensabaya Angkat Isu Skoliosis, Siswa SMP Diajak Kenali Perubahan Postur

11
×

ARSHA Spensabaya Angkat Isu Skoliosis, Siswa SMP Diajak Kenali Perubahan Postur

Sebarkan artikel ini
ARSHA Spensabaya

Salah satu tantangan dalam mengenali skoliosis adalah kondisi tersebut dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas. Karena itu, perubahan postur tubuh tidak seharusnya diabaikan, terutama ketika anak masih mengalami pertumbuhan.

โ€œSkoliosis kadang tidak terdeteksi dan memang tidak ada keluhan. Karena itu, deteksi dini sangat penting supaya kita bisa melakukan intervensi jika terjadi masalah di kemudian hari,โ€ ujar Erreza.

Ia menjelaskan bahwa gangguan keseimbangan tulang belakang dapat membuat otot-otot di sekitarnya bekerja lebih keras untuk mempertahankan postur tubuh.

Jika kelengkungan bertambah dan tidak terpantau, penanganan dapat menjadi lebih kompleks.

Meski demikian, skoliosis tidak selalu membutuhkan operasi. Penanganan bergantung pada derajat kelengkungan, usia pasien, sisa pertumbuhan, serta perkembangan kondisi dari waktu ke waktu.

Pada kasus tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemantauan berkala, latihan atau fisioterapi sesuai indikasi, penggunaan penyangga atau brace, maupun operasi apabila kelengkungan tergolong berat atau terus berkembang.

ARSHA Spensabaya
Kepala SMPN 1 Surabaya, Eko Widayani, S.Pd., M.Pd., (tengah), dr. Siska Citra Amalia, Sp.THT-BKL.
Ketua Komite SMNN1 Surabaya (kanan),
Dr Henriette Agustia Wijayanti, Ketua Panitia Arsha 2026 (kiri) dan dr. Erreza Rahardiansyah, Sp.OT., Subsp. OTB(K).

Dalam materi edukasi ARSHA, siswa dan orang tua juga diperkenalkan dengan enam tanda fisik yang dapat menjadi petunjuk awal kemungkinan skoliosis.

Tanda tersebut meliputi salah satu bahu tampak lebih tinggi, salah satu tulang belikat lebih menonjol, garis pinggang kanan dan kiri tidak simetris, salah satu sisi panggul lebih tinggi, tubuh terlihat condong ke satu sisi, serta salah satu sisi punggung lebih menonjol ketika anak membungkuk ke depan.

Pemeriksaan dengan membungkukkan badan ke depan dikenal sebagai Adam Forward Bend Test. Metode ini dapat membantu mengidentifikasi ketidaksimetrisan punggung yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Tenaga medis juga dapat menggunakan skoliometer untuk mengukur sudut rotasi batang tubuh.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan indikasi yang memerlukan evaluasi lanjutan, dokter dapat menentukan kebutuhan pemeriksaan radiologi untuk mengukur sudut kelengkungan tulang belakang.

Namun, perubahan postur tidak otomatis berarti seseorang mengalami skoliosis. Ketidaksimetrisan tubuh dapat memerlukan penilaian lebih lanjut, sementara skoliosis sendiri bisa terjadi tanpa rasa nyeri.

Diagnosis perlu ditegakkan melalui pemeriksaan medis, bukan hanya berdasarkan pengamatan visual.

Edukasi tersebut juga meluruskan anggapan bahwa membawa tas berat menjadi penyebab langsung skoliosis idiopatik.

Meski tidak terbukti sebagai penyebab langsung kondisi tersebut, tas yang terlalu berat tetap dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada bahu dan punggung. Anak perlu memperhatikan beban tas serta cara membawanya.

Melalui ARSHA Spensabaya, siswa diharapkan lebih peka terhadap perubahan postur tubuh dan berani menyampaikannya kepada orang tua.

Di sisi lain, orang tua dapat membantu dengan memperhatikan kesejajaran bahu dan panggul, bentuk punggung, serta perubahan postur anak selama masa pertumbuhan.

Apabila menemukan tanda yang mencurigakan, orang tua disarankan membawa anak untuk diperiksa dokter. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi yang terjadi sekaligus menentukan apakah anak membutuhkan pemantauan atau penanganan lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60