Example 728x250
Pendidikan

Tim NyxAId UNAIR Kembangkan Kacamata Pintar untuk Panduan Pertolongan Pertama bagi Tunanetra

5
×

Tim NyxAId UNAIR Kembangkan Kacamata Pintar untuk Panduan Pertolongan Pertama bagi Tunanetra

Sebarkan artikel ini
Tim NyxAId UNAIR
Tim NyxAId UNAIR yang beranggotakan Gressendy Zahwarani, Hannah Icasia Illine, Zalfa Zahira Febriyani, Shafrie Alvito Wimala Rasendrya, dan Muhammad Bariq Azka saat mengikuti Camp Pembekalan PIMNAS ke-39 Universitas Airlangga.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Keterbatasan akses informasi medis yang ramah bagi penyandang disabilitas netra menjadi latar belakang lahirnya NyxAId, sistem asistif berbasis kecerdasan buatan atau Generative AI yang dikembangkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR).

Mengintegrasikan kacamata pintar dan aplikasi seluler, inovasi ini dirancang untuk membantu tunanetra memperoleh panduan pertolongan pertama melalui suara. Karya tersebut mengantarkan tim pengembangnya lolos ke final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39.

NyxAId dikembangkan oleh lima mahasiswa lintas fakultas melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC).

Mereka adalah Gressendy Zahwarani, Hannah Icasia Illine, Shafrie Alvito Wimala Rasendrya, dan Muhammad Bariq Azka dari Fakultas Vokasi (FV), serta Zalfa Zahira Febriyani dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Karya yang mereka rancang bertajuk โ€œNyxAId: Sistem Asistif Berbasis Generative AI dengan Integrasi Smart Glasses untuk Dukungan Pertolongan Pertama Inklusif bagi Tunanetraโ€.

Sistem ini berangkat dari persoalan prosedur pertolongan pertama yang masih banyak mengandalkan pengamatan visual, sehingga menyulitkan penyandang tunanetra ketika harus menangani cedera secara mandiri.

Ketua tim, Gressendy Zahwarani, mengatakan NyxAId dikembangkan untuk menyediakan informasi awal yang lebih mudah diakses melalui panduan suara. Pemilihan smart glasses atau kacamata pintar juga mempertimbangkan kebutuhan pengguna untuk tetap leluasa menggunakan kedua tangan saat menangani luka.

โ€œFokus kami adalah memberikan dukungan informasi awal yang lebih inklusif melalui media suara. Kami memilih smart glasses agar pengoperasiannya bersifat hands-free, sehingga pengguna tetap dapat bebas memanfaatkan kedua tangannya saat menangani luka,โ€ ujar Gressendy.

NyxAId
Prototipe perangkat smart glasses dan antarmuka aplikasi mobile NyxAId berbasis Generative AI yang dirancang untuk memberikan panduan suara pertolongan pertama bagi penyandang tunanetra. (Foto: Istimewa)

Secara teknis, NyxAId menggabungkan kacamata pintar dengan aplikasi seluler. Citra luka diambil menggunakan kamera pada kacamata atau melalui aplikasi, kemudian diproses oleh model kecerdasan buatan dengan pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG).

Pendekatan tersebut memungkinkan sistem mencocokkan informasi mengenai kondisi luka dengan basis pengetahuan medis tentang pertolongan pertama. Hasil pemrosesan selanjutnya disampaikan dalam bentuk respons audio yang memuat panduan langkah penanganan.

Pengembangan sistem ini menghadirkan tantangan dalam menyelaraskan perangkat lunak dan perangkat keras.

Tim harus mengoptimalkan kemampuan AI dalam menganalisis citra luka sekaligus memastikan perangkat kacamata tetap ringkas, ergonomis, dan dapat terhubung dengan aplikasi secara lancar.

Gressendy menjelaskan, akurasi analisis AI dan integrasi perangkat menjadi dua aspek utama yang perlu diperhatikan selama pengembangan. Menurut dia, sistem harus mampu mengolah informasi berdasarkan pendekatan RAG, sementara modul kacamata perlu dirancang agar tetap praktis digunakan.

โ€œTantangan terbesar kami terletak pada akurasi AI dan integrasi hardware. Sistem AI harus presisi menganalisis luka berbasis RAG, sementara modul kacamata harus tetap kompak dan terhubung lancar dengan aplikasi,โ€ katanya.

Menjelang PIMNAS ke-39, tim NyxAId memusatkan persiapan pada penyempurnaan dokumen teknis, pengujian keandalan prototipe, dan latihan presentasi.

Mereka juga mengikuti pembekalan intensif selama tiga hari yang diselenggarakan UNAIR, kemudian melanjutkannya dengan latihan presentasi secara berkala.

Bagi Gressendy, persiapan menuju kompetisi nasional tersebut tidak cukup hanya dengan menguasai materi presentasi. Tim juga perlu memahami dasar pertimbangan di balik setiap keputusan teknis yang diambil selama proses pengembangan.

โ€œBagi kami, persiapan PIMNAS bukan hanya tentang bagaimana tampil saat presentasi, tetapi juga memastikan kami benar-benar memahami alasan di balik setiap keputusan teknis selama pengembangan NyxAId,โ€ ujarnya.

Gressendy berharap NyxAId dapat terus dikembangkan menjadi teknologi asistif yang lebih matang dan dapat dimanfaatkan secara luas.

Ia menilai proses pengembangan inovasi membutuhkan keberanian untuk memulai, disertai kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki gagasan yang telah dirintis.

โ€œSebuah ide tidak harus langsung menjadi inovasi yang sempurna. Yang terpenting kita tidak boleh takut untuk memulai, serta selalu mau belajar dan memperbaiki ide tersebut,โ€ tutur Gressendy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60