Mulai dari nelayan kecil, awak kapal perikanan, perempuan yang bekerja di sektor perikanan, pengolah ikan, hingga pedagang harus diberikan ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan persoalan mereka.
Salah satu masalah yang secara khusus disoroti adalah hubungan ketergantungan antara nelayan dan tengkulak. Sebagian nelayan terpaksa meminjam uang untuk membiayai kebutuhan melaut maupun keperluan keluarga.
Akibatnya, mereka memiliki keterikatan untuk menjual hasil tangkapan kepada pihak yang memberikan pinjaman.
Kondisi tersebut membuat nelayan kehilangan keleluasaan dalam menentukan harga jual hasil tangkapan. Bahkan, mereka terkadang harus menerima harga yang ditetapkan pembeli karena terikat kewajiban utang.
“Kadang-kadang mereka tidak punya pilihan. Karena sudah memiliki utang, seluruh hasil tangkapannya harus dijual kepada orang yang memberikan pinjaman, berapa pun harga yang ditawarkan,” ungkap Trenggono.
Karena itu, survei calon lokasi KNMP harus mencakup pemetaan rantai pemasaran hasil tangkapan. Tim perlu mengetahui siapa yang menguasai jalur penjualan, bagaimana mekanisme transaksi berlangsung, serta berapa besar biaya operasional yang harus dikeluarkan nelayan setiap kali melaut.

Persoalan lain yang tidak boleh luput adalah ketersediaan bahan bakar minyak dan fasilitas penyimpanan ikan. Kebutuhan es untuk menjaga kualitas hasil tangkapan, misalnya, perlu diperhitungkan berdasarkan karakteristik kapal dan kapasitas penangkapan.
Trenggono mencontohkan penggunaan coolbox. Ukuran fasilitas penyimpanan tersebut harus disesuaikan dengan kapasitas kapal nelayan.
Penyediaan fasilitas yang terlalu besar justru tidak efektif apabila tidak sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.
Menurut dia, kebutuhan teknis semacam itu hanya dapat diketahui melalui komunikasi langsung dengan masyarakat.
Tim survei tidak cukup hanya melakukan pengamatan singkat, tetapi harus memahami bagaimana nelayan bekerja dan menjalankan kegiatan ekonominya.
“Jangan datang ke lokasi hanya melihat-lihat. Saudara harus benar-benar bertanya kepada nelayan, apa yang mereka butuhkan, bagaimana kondisi mereka, dan apa yang harus dibangun,” tegasnya.
Selain kebutuhan produksi, potensi ekonomi lokal juga menjadi pertimbangan dalam perencanaan KNMP.



















