KILASJAVA.ID, MANOKWARI – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia mitra Universitas Airlangga (UNAIR) mulai menyiapkan lahan produktif bersama kader di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pada Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Penguatan Ekonomi Keluarga Kader sekaligus upaya pengembangan Keluarga Sadar Gizi (KADARZI).
Lahan yang disiapkan tidak hanya diarahkan sebagai area bercocok tanam, tetapi juga menjadi sumber pangan keluarga, ruang pembelajaran kader, serta awal pengembangan kegiatan ekonomi produktif yang berkelanjutan.
Di bawah koordinasi Dr Muthmainnah SKM MKes bersama Sri Rahmawati SPsi MSi, Imeldawati Tambunan SKM, Anggun Anggifosari SI Kom, Surma Elisa Manihuruk SKM MKes, dan Widyasari Yuni Agustin ST, tim TEP UNAIR bersama kader melakukan sejumlah tahapan persiapan. Mulai dari melihat kesiapan lahan, membersihkan area, hingga mendiskusikan komoditas pangan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga dan kondisi lingkungan setempat.
“Pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pelatihan. Kami ingin kader memiliki kegiatan yang benar-benar bisa tumbuh, menghasilkan pangan untuk keluarga, dan suatu saat memberikan tambahan pendapatan. Kader sehat, keluarganya kuat, dan ekonominya juga harus ikut tumbuh,” ujar Muthmainnah.
Penyiapan lahan menjadi langkah awal sebelum program memasuki tahap budi daya. Tim bersama kader memetakan jenis tanaman pangan dan sayuran yang mudah dipelihara, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga, serta memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti ketika pendampingan selesai. Kader dapat mengelola kegiatan secara mandiri, kemudian membangun jejaring dengan Puskesmas, pemerintah kampung, kelompok masyarakat, maupun mitra lainnya,” tutur dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR tersebut.
Dalam pelaksanaannya, kader ditempatkan sebagai pelaku utama sejak tahap awal. Pendekatan itu dilakukan agar program tidak berhenti pada pemberian informasi, tetapi memberikan pengalaman langsung kepada kader dalam mengelola potensi yang tersedia di lingkungannya.
“Yang ingin dibangun bukan hanya kebunnya, tetapi kebiasaan dan kemandirian keluarganya. Kalau kebutuhan pangan tertentu dapat dihasilkan sendiri, pengeluaran rumah tangga bisa ditekan. Jika produksinya berkembang, hasilnya juga berpeluang dijual,” ujar Sri Rahmawati, anggota TEP UNAIR.
Program Penguatan Ekonomi Keluarga Kader dirancang secara bertahap. Tahapan tersebut meliputi pemetaan kebutuhan dan potensi kader, penyiapan lahan, pemilihan komoditas, hingga praktik budi daya dan pengelolaan hasil.
Kader nantinya juga diarahkan memanfaatkan hasil panen sebagai bagian dari penyediaan menu keluarga bergizi. Selain itu, mereka akan diperkuat dengan kemampuan pencatatan sederhana terkait produksi dan pengeluaran.
Ketika hasil produksi mulai mencukupi kebutuhan keluarga, kelebihan hasil panen dapat diarahkan untuk dikemas, dipasarkan, atau dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
Keberhasilan program tersebut nantinya akan dilihat dari kemampuan keluarga memperoleh pangan bergizi, potensi penghematan pengeluaran pangan, adanya hasil produksi yang memberikan nilai ekonomi, serta kemampuan kader melanjutkan kegiatan secara mandiri. Upaya tersebut mendukung SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), serta secara tidak langsung SDG 1 (No Poverty).














