KILASJAVA.ID, SURABAYA – Isu femisida hingga radikalisasi digital di kalangan remaja menjadi fokus penelitian mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang berhasil meraih medali emas dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39.
Tak hanya dua medali emas, kontingen UNAIR juga membawa pulang penghargaan juara favorit melalui inovasi penelitian di bidang kesehatan.
Pengumuman pemenang berlangsung pada Jumat (6/11/2026) di Gedung Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Semarang. Dua medali emas tersebut diraih oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) melalui penelitian yang mengangkat persoalan sosial aktual di tengah masyarakat.
Tim PKM-RSH 3 menjadi salah satu penyumbang emas bagi UNAIR. Tim yang terdiri atas Afif Pramudya Alriandi, Muhammad Adha Al-Faiz Nadhif, Annisa Alfitriah, Vennisya Nadia Putri, dan Desi Rahmawati Pambudi itu mengangkat penelitian berjudul โVonis Di Balik Layar: Mengungkap Keputusan Pelaku dalam Eskalasi Kekerasan Gender dari Relasi Digital Menuju Femisidaโ.
Medali emas berikutnya diraih Tim PKM-RSH 2 yang beranggotakan Azka Syifa Mazaya, Calista Prashanti Jocom, Farrel Thalhah Mahendra, Nabila Juhaina, dan Saila Salsabila.
Mereka meneliti fenomena radikalisasi digital melalui karya berjudul โMengagumi Kejahatan, Menjelma Ancaman: Menguak Radikalisasi Digital Remaja Indonesia dalam True Crime Communityโ.
Sementara itu, penghargaan juara favorit diraih Tim PKM-RE 1. Bayu Cahyo Bintoro, Intan Asmi Saharani, Muhammad Darryl Aghzuwwan Fiddianova, Anindita Azkia Fauzana, dan Barika Zoyscia Dyana Putri mengembangkan penelitian berjudul โInovasi Vesicular Nano-Transethosome Gel Berbasis Minyak Buah Merah Papua Terinkorporasi Silk Fibroin Bombyx mori Cocoon sebagai Kandidat Terapi Osteoartritisโ.
Direktur Kemahasiswaan UNAIR, Dr Eko Supeno, Drs MSi, menyambut gembira capaian kontingen UNAIR dalam kompetisi ilmiah tingkat nasional tersebut.
Ia mengaku bangga atas perjuangan mahasiswa, terlebih persaingan PIMNAS tahun ini berlangsung ketat dengan keikutsertaan berbagai perguruan tinggi yang mengirimkan tim terbaiknya.
โAlhamdulillah, saya cukup surprise dan senang. Kami bersyukur dan saya sangat terharu dengan anak-anak,โ ujarnya.
Menurut Eko, perolehan dua medali emas pada kategori presentasi merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Kendati demikian, UNAIR masih memiliki pekerjaan untuk meningkatkan prestasi, terutama pada kategori riset eksakta.
Ia menilai, keberhasilan dalam kompetisi ilmiah tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah penghargaan yang diperoleh. Aspek keberlanjutan penelitian dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat juga perlu menjadi perhatian.
Gagasan mahasiswa yang telah dikembangkan bersama dosen pendamping, kata dia, harus memperoleh pendampingan lanjutan agar tidak berhenti sebagai proposal atau karya ilmiah untuk kebutuhan kompetisi.
โYang paling penting itu impact atau dampak dan keberlanjutan. Tanpa adanya keberlanjutan, apa yang diusahakan teman-teman, termasuk dosen pendamping, hanya akan berhenti sebagai gagasan dan ide,โ jelasnya.
Untuk mempersiapkan kompetisi berikutnya, Direktorat Kemahasiswaan UNAIR mulai menyusun strategi pembinaan lebih awal.
Penjaringan mahasiswa potensial atau talent scouting direncanakan berlangsung setelah PIMNAS ke-39 selesai.





















